Liputan6.com, Jakarta - Bayangkan kamu lagi duduk di pesawat. Bosan, lalu melamun sambil menatap awan di luar jendela.
Tiba-tiba terlintas pikiran konyol: bagaimana kalau pintu darurat dibuka dan kamu terjun bebas?
Advertisement
Apakah pasti mati? Atau mungkin bangun dengan tulang patah lalu masuk rumah sakit jiwa dengan cerita paling gila seumur hidup?
Kita singkirkan dulu contoh ekstrem seperti Felix Baumgartner yang melompat dari ketinggian 39 kilometer dengan pakaian khusus dan parasut.
Juga lupakan "wreckage riders", yaitu mereka yang jatuh bersama serpihan pesawat yang justru memperlambat kecepatan. Contohnya, pramugari Serbia Vesna Vulović yang selamat setelah jatuh dari ketinggian 10 ribu meter pada 1972 karena terperangkap dalam badan pesawat.
Bertahan Hidup
Sekarang, bayangkan skenario paling sederhana: kamu sendirian, tanpa alat pelindung, dan benar-benar terjun bebas. Pertanyaannya, sampai seberapa tinggi manusia bisa jatuh dan tetap bertahan hidup?
Tercatat ada kasus nyata. Seorang pilot Perang Dunia II bernama Alan Magee pernah jatuh dari ketinggian 20 ribu kaki (sekitar 6 kilometer) tanpa parasut. Ia menghantam atap kaca sebuah stasiun kereta, dan entah bagaimana itu justru membantu menyebarkan benturan, dilansir dari Mental Floss, Sabtu (6/9/2025).
Menurut James Kakalios, profesor fisika dari University of Minnesota, faktor terpenting adalah bagaimana dan di mana kamu mendarat.
"Kalau waktu mendarat bisa dibuat lebih lama, gaya yang dibutuhkan untuk menghentikanmu jadi lebih kecil. Bayangkan memukul tembok dan kasur. Tembok keras, interaksinya singkat, gaya yang tercipta besar. Mereka yang selamat biasanya bisa memperpanjang waktu benturan meski hanya milidetik," ujarnya kepada Mental Floss pada 2015.
Kaca, salju, pohon, atau permukaan yang bisa menyerap benturan terbukti meningkatkan peluang hidup dibandingkan beton.
Faktor lain adalah memperlambat jatuh dengan memperbesar luas tubuh. Posisi "flying squirrel", yaitu tubuh terbuka lebar, lebih aman dibanding jatuh dengan kepala atau kaki duluan. "Menambah drag adalah faktor terbesar agar tetap hidup," kata Kakalios.
Tanpa parasut, cara terbaik adalah jatuh telentang atau berguling.
Batas Tertinggi
Secara teori, manusia bisa bertahan dari jatuh sekitar 20 ribu kaki, seperti Magee. Tapi bagaimana kalau lebih tinggi?
Paul Doherty, mantan fisikawan sekaligus direktur Exploratorium di San Francisco, menjelaskan bahwa semakin tinggi, udara makin tipis dan risikonya bertambah.
“Kamu bisa berputar terlalu cepat sampai darah mengalir ke kepala dan membunuhmu. Atau gesekan dengan atmosfer bisa membakar tubuhmu. Itu sebabnya pesawat ulang-alik punya pelindung panas,” ujarnya pada 2015.
Meski begitu, kecepatan jatuh manusia sebenarnya terbatas. Saat mencapai terminal velocity (sekitar 193 km/jam), tambahan ketinggian tidak membuatmu jatuh lebih cepat. Tapi ada masalah lain: tekanan udara rendah di ketinggian bisa membuat darah mendidih. Hal ini diperkirakan mulai terjadi di sekitar 63 ribu kaki (sekitar 19 kilometer). Karena itulah NASA mewajibkan astronot memakai pakaian bertekanan sejak 50 ribu kaki.
Apakah jatuh di bawah 63 ribu kaki masih bisa selamat?
“Katakanlah 60 ribu kaki. Bisa sampai 100 ribu kalau kamu pingsan lalu sadar kembali, darahmu tidak mendidih, dan kamu mendarat di sesuatu yang bisa menyerap benturan,” kata Doherty.