Liputan6.com, Washington D.C - Gerakan politik kerap lahir dari simbol-simbol sederhana. Winston Churchill punya isyarat "V for Victory", Gandhi dengan roda pemintalnya.
Kini, bagi sejumlah warga Amerika Serikat yang menentang kebijakan keras Donald Trump di Washington D.C, simbol itu hadir dalam bentuk sepotong Salami Sandwich atau roti lapis salami.
Advertisement
Kisahnya berawal dari Sean Charles Dunn, pria yang kemudian dikenal publik sebagai "Sandwich Guy", dikutip dari laman The Telegraph, Kamis (4/9/2025).
Ia sempat terancam hukuman penjara hingga delapan tahun karena dianggap menyerang aparat federal setelah melemparkan roti lapis Subway ke arah petugas bea cukai. Namun pekan lalu, dewan juri menolak mendakwanya dengan pasal berat.
Dunn hanya menghadapi dakwaan pelanggaran ringan, meski ia kehilangan pekerjaannya dan dituding sebagai bagian dari "deep state".
Sejak rekaman aksinya viral, Dunn berubah menjadi sosok legenda di kalangan penentang Trump. Tak disangka, sandwich salami pun menjelma simbol perlawanan yang unik.
Dari Aksi Nyeleneh Jadi Ikon Protes
Insiden itu terjadi pada 11 Agustus, beberapa hari setelah Trump mengumumkan pengerahan Garda Nasional ke ibu kota dan mengambil alih sementara kepolisian. Keputusan ini menuai tudingan sebagai perebutan kekuasaan secara otoriter.
Saat protes berlangsung di Stasiun Union, Dunn melemparkan roti lapis sepanjang 30 cm sambil berteriak, "Persetan, fasis!" Adegan slapstick itu direkam kamera dan menyebar luas. Dalam hitungan hari, mural bergaya Banksy bermunculan di dinding-dinding kota, menampilkan sosok yang melempar sandwich alih-alih seikat bunga.
Media sosial pun ramai dengan meme roti lapis. Di Bluesky, misalnya, beredar gambar Subway dengan tulisan satir: "Senjata boleh dibawa terbuka, tapi roti lapis bisa bikin revolusi."
Dari Meme ke Gerakan Massa
Simbol roti lapis ini cepat menyebar di jalanan. Para demonstran mengangkat salami sepanjang satu kaki—persis menu yang dipilih Dunn di Subway—sebagai tanda perlawanan. Pedagang meraup untung dengan menjual kaus dan bendera Distrik Columbia yang garis merahnya diganti dengan gambar sandwich.
"Lucu, menghibur, tapi juga menyampaikan pesan," ujar Zach, anggota kelompok For Liberation Everywhere (Flare). Bagi banyak orang, kasus Dunn menunjukkan absurditas pemerintahan Trump yang menghukum keras lemparan roti, namun di saat yang sama melunak terhadap pelaku kerusuhan 6 Januari.
Brad Bannon, analis politik Partai Demokrat, menyebut roti lapis itu "simbol sederhana" dari protes terhadap "pengambilalihan kekuasaan ala kekaisaran" dan penyalahgunaan wewenang jaksa.
Ketika Humor Jadi Senjata
Meski Dunn akhirnya ditangkap 20 agen federal di depan rumahnya, kisahnya sudah telanjur melekat di ingatan publik. Steven Heller, pakar desain grafis di School of Visual Arts, New York, mengatakan bahwa humor kerap menjadi senjata paling efektif melawan tirani.
"Orang tidak ingin diceramahi. Tapi ketika sesuatu bisa ditertawakan, pesan sebenarnya masuk lebih dalam," ujarnya.
Tak heran bila mural sandwich bergaya Banksy di stasiun Metro Dupont Circle buru-buru dihapus otoritas. Namun justru karena dihapus, simbol itu semakin kuat.
Bagi seorang presiden yang terkenal gemar makanan cepat saji, musuh baru Trump kali ini mungkin terasa ironis: bukan senjata, bukan spanduk, melainkan sepotong roti lapis salami setinggi 30 sentimeter.