Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Donald Trump pada hari Selasa (2/9/2025) mengumumkan bahwa Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan terhadap sebuah kapal pengangkut narkoba yang berangkat dari Venezuela dan dikendalikan oleh geng Tren de Aragua.
Dalam unggahan di media sosialnya, Trump mengaku bahwa 11 orang tewas dalam operasi militer AS yang jarang terjadi di kawasan Amerika, sebuah eskalasi dramatis dalam upaya membendung arus narkotika dari Amerika Latin.
Advertisement
"Serangan ini dilakukan ketika para teroris berada di laut, tepatnya di perairan internasional, saat mereka mengangkut narkotika ilegal menuju AS," ujar Trump di Truth Social seperti dilansir AP. "Tidak ada satu pun pasukan AS yang terluka dalam operasi ini. Anggaplah ini sebagai peringatan bagi siapa saja yang bahkan hanya berniat membawa narkoba ke AS."
Tren de Aragua muncul lebih dari satu dekade lalu dari sebuah penjara berbahaya yang dihuni penjahat kelas berat di Negara Bagian Aragua, Venezuela bagian tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini semakin berkembang seiring eksodus lebih dari 7,7 juta warga Venezuela yang melarikan diri dari krisis ekonomi dan bermigrasi ke berbagai negara di Amerika Latin maupun ke AS.
Trump dan pejabat pemerintahannya berulang kali menyalahkan geng itu sebagai akar kekerasan dan perdagangan narkoba yang melanda beberapa kota. Dan pada hari Selasa, presiden kembali mengulangi klaimnya — yang dibantah oleh penilaian intelijen AS yang sudah dideklasifikasi — bahwa Tren de Aragua beroperasi di bawah kendali Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Gedung Putih belum memberikan penjelasan tentang bagaimana militer memastikan bahwa orang-orang di kapal tersebut adalah anggota Tren de Aragua. Hingga kini, jumlah anggota geng itu masih belum jelas, begitu pula sejauh mana aksi mereka terorganisasi lintas perbatasan negara.
Respons Maduro
Setelah Trump mengumumkan serangan tersebut, televisi negara Venezuela menayangkan Maduro bersama ibu negara, Cilia Flores, berjalan di jalanan lingkungan tempat masa kecilnya. Seorang penyiar televisi menyebut Maduro tengah ‘bermandikan cinta patriotik’ ketika berinteraksi dengan para pendukungnya.
"Di hadapan ancaman imperialis, Tuhan bersama kita," ujar Maduro kepada para pendukungnya.
Maduro tidak secara langsung menyinggung serangan itu, tetapi menuduh AS sedang datang untuk merebut kekayaan Venezuela, termasuk minyak dan gas. Venezuela terbukti memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
"Dari lingkungan Caracas... saya katakan, akan ada perdamaian di Venezuela, dengan kedaulatan," kata Maduro.
Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pertama kali mengumumkan serangan itu pada Selasa pagi, tidak lama sebelum Rubio berangkat ke Meksiko dan Ekuador untuk melakukan pembicaraan terkait kartel narkoba, keamanan, tarif, dan isu lainnya.
Dalam percakapan singkat dengan wartawan sebelum berangkat dari Miami menuju Mexico City, Rubio menyerahkan pertanyaan tentang detail serangan itu kepada Pentagon. Dia menyebut narkoba di kapal tersebut kemungkinan besar ditujukan ke Trinidad atau ke wilayah lain di Karibia.
Selama bertahun-tahun, Rubio kerap berbicara menentang Maduro dan pemerintah-pemerintah kiri di Amerika Latin, serta memberikan dukungan kepada para pemimpin oposisi. Pada tahun 2018, ketika Trump menjalani masa jabatan pertamanya, Rubio mengatakan kepada Univision bahwa ada argumen kuat untuk penggunaan militer AS di Venezuela. Dia juga menuduh pejabat Venezuela terlibat dalam membantu para penyelundup narkoba.
Ketika ditanya apakah Trump akan melakukan operasi di wilayah Venezuela, Rubio memberikan jawaban yang samar.
"Kami akan menghadapi kartel narkoba di mana pun mereka berada dan di mana pun mereka beroperasi melawan kepentingan AS," tegas Rubio.
AS Kirim Kapal Perusak ke Perairan Lepas Venezuela
Serangan yang diumumkan Trump terjadi setelah AS bulan lalu mengungkap rencana memperkuat kekuatan maritimnya di perairan lepas Venezuela guna memerangi ancaman dari kartel narkoba Amerika Latin.
Pemerintah Maduro menanggapi dengan mengerahkan pasukan di sepanjang pantai Venezuela dan perbatasannya dengan Kolombia, serta dengan menyerukan warga Venezuela untuk mendaftar dalam milisi sipil.
Maduro bersikeras bahwa AS sedang membangun narasi palsu tentang perdagangan narkoba untuk mencoba menggulingkannya dari kekuasaan. Dia dan pejabat pemerintah lainnya berulang kali mengutip laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mereka katakan menunjukkan bahwa para penyelundup hanya mencoba memindahkan 5 persen kokain yang diproduksi di Kolombia melalui Venezuela. Bolivia yang terkurung daratan dan Kolombia, dengan akses ke Samudra Pasifik dan Karibia, adalah produsen kokain terbesar di dunia.
Laporan Narkoba Dunia terbaru dari PBB menunjukkan bahwa berbagai negara di Amerika Selatan, termasuk Kolombia, Ekuador, dan Peru, melaporkan penyitaan kokain yang lebih besar pada tahun 2022 dibandingkan pada tahun 2021, namun laporan itu tidak memberikan peran luar biasa kepada Venezuela sebagaimana yang dikemukakan Gedung Putih dalam beberapa bulan terakhir.
"Dampak meningkatnya perdagangan kokain telah dirasakan khususnya di Ekuador, yang telah mengalami gelombang kekerasan mematikan dalam beberapa tahun terakhir terkait dengan kelompok kriminal lokal maupun transnasional, terutama dari Meksiko dan negara-negara Balkan," menurut laporan itu.
Pada hari Senin, Maduro menegaskan kepada wartawan bahwa jika Venezuela diserang oleh pasukan AS yang dikerahkan ke Karibia, dia akan secara konstitusional menyatakan seluruh republik berada dalam keadaan angkat senjata.