Liputan6.com, Sanaa - Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat 11 staf PBB yang ditangkap Houthi di Yaman.
Sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita dan PBB, para pekerja itu ditangkap dalam penggerebekan terhadap kantor Program Pangan Dunia (WFP), UNICEF, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Advertisement
Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg mengatakan penggerebekan pada Minggu (31/8/2025) berlangsung di Sanaa dan kota pelabuhan Hudaydah.
Grundberg menyebutkan bahwa Houthi sebelumnya sudah menahan 23 pekerja PBB lainnya sejak 2021.
Otoritas Houthi belum memberikan komentar atas penangkapan pada hari Minggu.
Dalam pernyataannya pada Minggu seperti dilansir BBC, Guterres mengatakan dia sangat mengecam penahanan sewenang-wenang setidaknya 11 personel PBB oleh Houthi. Dia juga mengutuk tindakan masuk paksa ke kantor WFP dan kantor PBB lainnya, serta penyitaan properti.
Belum jelas alasan Houthi menargetkan pekerja PBB. Staf organisasi tersebut, bersama para pekerja bantuan, selama ini menjadi penopang penting bagi warga Yaman yang telah bertahun-tahun menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Salah satu dari mereka yang ditahan sebelumnya, kata Grundberg, meninggal di dalam tahanan awal tahun ini.
Houthi juga telah menahan sekitar 20 pegawai Yaman yang bekerja di Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) selama tiga tahun terakhir.
"Meski PBB telah melakukan upaya diplomasi berkelanjutan dan berulang kali meminta jaminan sepanjang tahun lalu, penahanan sewenang-wenang terhadap staf PBB, pekerja LSM, dan masyarakat sipil tetap berlanjut," ujar Grundberg. "Tindakan ini sangat menghambat upaya yang lebih luas untuk menyalurkan bantuan dan memajukan perdamaian di Yaman."
Awal tahun ini, PBB sempat menangguhkan semua pergerakan di wilayah yang dikuasai Houthi setelah sejumlah personelnya ditahan.
Krisis Kemanusiaan di Yaman
Penangkapan terbaru terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan Israel menewaskan perdana menteri Houthi dan sejumlah pejabat tinggi lainnya pada Kamis (28/8).
Serangan itu menjadi pukulan terbesar Israel sejak melancarkan serangan balasan setahun lalu atas gempuran rudal Houthi. Mulai November 2023, Houthi telah menyerang Israel sebagai wujud dukungan kepada rakyat Palestina di Gaza.
Houthi telah menguasai ibu kota dan wilayah barat laut Yaman sejak menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional pada 2015 di tengah perang saudara, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dan memicu bencana kemanusiaan. Sekitar 4,8 juta orang mengungsi dan 19,5 juta orang — separuh populasi negara itu — membutuhkan berbagai bentuk bantuan.