Liputan6.com, Jakarta- Pembalap muda kebanggaan Indonesia, Fadillah Arbi Aditama, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan menjadi juara pada Race 1 kelas Asia Production 250 (AP250) di ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) 2025. Kemenangan ini diraihnya di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok, Indonesia, pada Sabtu, 30 Agustus 2025, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu talenta terbaik di kancah balap motor Asia.
Arbi Aditama, yang merupakan bagian dari Astra Honda Racing Team (AHRT), menunjukkan performa luar biasa sejak awal balapan. Meski memulai dari posisi ketiga, ia mampu bersaing ketat dengan para pembalap top lainnya, termasuk rival beratnya dari Jepang. Keberhasilannya ini tidak hanya membanggakan tim, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia yang menyaksikan langsung di sirkuit atau melalui siaran televisi.
Advertisement
Balapan yang berlangsung sengit ini menjadi bukti ketangguhan dan strategi matang yang diterapkan oleh Arbi. Dengan menggunakan motor Honda CBR250RR, ia berhasil mengatasi berbagai tantangan di lintasan, termasuk drama di lap-lap terakhir yang turut memuluskan jalannya menuju podium tertinggi. Kemenangan ini menjadi sinyal positif bagi masa depan balap motor Indonesia di kancah internasional.
Terus dibayangi pebalap lain, akhirnya Arbi mengunci kemenangan dengan selisih waktu 0,784 detik dengan pembalap kedua. Sementara rekannya, Davino Britani juga menunjukkan perjuangan luar biasa. Start dari posisi ke-24, ia tampil trengginas dan finis di posisi kedelapan.
Jalannya Balapan Penuh Drama di Mandalika
Fadillah Arbi Aditama memulai Race 1 AP250 ARRC Mandalika 2025 dari posisi ketiga, sebuah posisi yang cukup strategis untuk langsung terlibat dalam persaingan di barisan depan. Sejak lampu hijau menyala, persaingan ketat langsung terjadi, terutama dengan pembalap Jepang, Riichi Takahira, yang menjadi rival utamanya di lintasan. Keduanya saling tempel dan bergantian memimpin, menciptakan tontonan yang mendebarkan bagi para penonton.
Memasuki lap kedelapan, intensitas balapan semakin meningkat. Rombongan depan semakin rapat, dengan delapan pembalap terdepan hanya berjarak sangat tipis. Kondisi ini menuntut konsentrasi tinggi dan strategi yang jitu dari setiap pembalap untuk menjaga posisi dan mencari celah. Arbi Aditama dengan tenang menjaga ritme balapannya, menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangan.