Turis vs Panas Ekstrem di Jepang, Muncul Tren Wisata Coolcations

"Suhu di Tokyo tahun lalu mencapai 35 derajat Celsius!" seru poster-poster di peron stasiun kereta Jepang.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 29 Agustus 2025, 07:00 WIB
Pemerintah mengeluarkan peringatan sengatan panas untuk 20 dari 47 prefektur di Jepang, terutama di bagian timur dan barat daya, yang berdampak pada puluhan juta orang. (Richard A. Brooks / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Saat cuaca panas ekstrem terus mencengkeram Jepang, pergeseran tren wisata berlangsung di dunia pariwisata musim panas negara itu. Pasalnya, semakin banyak resor ski yang beroperasi sepanjang tahun, beralih ke mode "musim hijau" segera setelah salju mencair untuk menarik minat para pendaki gunung.

Melansir The Japan Times, Kamis, 28 Agustus 2025, turis yang mencari jeda dari hiruk pikuk hutan beton dan panas terik jadi sasaran sejumlah operator tur domestik yang mempromosikan destinasi di dataran tinggi yang sejuk. Namun, apakah inisiatif coolcations akan memacu lebih banyak permintaan perjalanan masih harus dilihat.

Ide melarikan diri dari panas, atau hisho dalam bahasa Jepang, dengan berwisata ke resor pegunungan, seperti Karuizawa, Yatsugatake, dan Kamikochi, bukanlah hal baru. Namun, seiring perubahan iklim yang membawa suhu panas lebih ekstrem ke kota-kota besar di Jepang, semakin banyak bisnis yang tampaknya gencar memasarkan destinasi bersuhu lebih sejuk sebagai daya tarik utama.

Menarik Minat Turis

Gelombang panas semakin intens dan sering terjadi di seluruh dunia akibat perubahan iklim. Tampak dalam foto, Orang-orang menyeberang jalan di Tokyo pada 4 Agustus 2025. (Kazuhiro NOGI/AFP)

East Japan Railway Co. (JR East) telah bekerja sama dengan perusahaan prakiraan cuaca swasta Weathernews untuk mengiklankan kampanye hisho tabi alias perjalanan menghindari panas di seluruh Tokyo. "Suhu di Tokyo tahun lalu mencapai 35 derajat Celsius!" seru poster-poster di peron stasiun kereta.

"Coba kunjungi di sini!" seru yang lain, sambil menunjukkan peta destinasi yang lebih sejuk dan suhu tertinggi rata-ratanya pada Agustus tahun lalu. Sebagian besar tujuan itu berada di Jepang utara dan timur, termasuk Washikura di Prefektur Fukushima (23,1 derajat Celcius), Sukayu di Prefektur Aomori (23,4 derajat Celcius), dan Kusatsu di Prefektur Gunma (25,2 derajat Celcius).

Raksasa kereta api ini juga telah berkolaborasi dengan kota Nasushiobara di Prefektur Tochigi untuk mempromosikan wisata ke tempat-tempat alam yang sejuk dan aktivitas air di fasilitas hiburan kota tersebut.

Tren Coolcation

Orang-orang melindungi diri dari terik matahari dengan payung di Tokyo pada 27 Agustus 2025. (Yuichi YAMAZAKI/AFP)

Tahun ini, grup Hoshino Resort mulai menjajakan ide "coolcation" yang telah terbukti populer di luar negeri. Konsep ini mendorong orang-orang untuk menginap di hotel dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut atau lebih, dengan suhu rata-rata siang hari pada Juli dan Agustus di bawah 25 derajat Celcius, seperti Okuhida di Prefektur Gifu dan Danau Kawaguchi di Prefektur Yamanashi.

Kampanye semacam ini muncul saat industri perjalanan menghadapi risiko orang-orang enggan berlibur karena cuaca panas ekstrem. Survei pada Juni 2025 dari firma riset pemasaran Intage yang berkantor pusat di Tokyo terhadap lima ribu orang berusia 15 hingga 79 tahun mengenai rencana liburan musim panas mereka menunjukkan bahwa 38 persen di antaranya ​​berencana tinggal di rumah musim panas ini.

 

Menghindari Aktivitas Luar Ruangan

Seorang pria bersantai dalam kolam renang indoor di pemandian air panas Jepang atau onsen di Yokohama, prefektur Kanagawa pada 29 Mei 2020. Dengan pencabutan status darurat nasional pada Senin (25/5) lalu, banyak bisnis yang mulai beroperasi kembali tak terkecuali dengan onsen. (Behrouz MEHRI/AFP)

Survei tersebut menemukan, orang-orang khususnya menghindari aktivitas luar ruangan, seperti berkemah/barbekyu dan mengunjungi taman hiburan. Survei tersebut juga mencatat, 70 persen responden mengatakan, pelemahan yen dan inflasi memengaruhi rencana mereka.

Ketika ditanya tentang rencana "ideal" mereka jika tidak ada cuaca panas ekstrem, 10 persen responden mengatakan, mereka akan mengunjungi taman hiburan dan 6,6 persen mengaku akan pergi ke Osaka Expo—menunjukkan adanya peluang yang hilang meski berbagai tindakan penanggulangan panas telah diambil penyelenggara acara tersebut.

"Penurunan aktivitas luar ruangan cukup signifikan, menunjukkan bagaimana orang-orang jadi lebih defensif dan menghindari tempat-tempat panas karena suhu panas yang ekstrem," simpul survei tersebut.

Pada akhirnya, pemasaran saja tidak akan berhasil. Biro pariwisata Nasushiobara telah menyelenggarakan tur bus "penyejuk" sepanjang hari musim panas ini, tapi mereka mengakui jumlah pengunjung belum begitu banyak.

Infografis Tips Hadapi Suhu Panas dan Gerah. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya