Apresiasi Guru Besar UNM pada Program Sekolah Rakyat Presiden Probowo: Pilar Ketahanan Nasional

Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM) Harris Arthur Hedar memberikan apresiasi setinggi-tinginya kepada Presiden Prabowo Subianto atas langkah konkret mewujudkan pendirian Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia.

oleh Tim NewsDiperbarui 27 Agustus 2025, 21:54 WIB
Selama simulasi, para siswa akan mendapat seragam dan keperluan sekolah, cek kesehatan gratis, talent mapping, uji coba pembelajaran akademik dengan memperkenalkan Learning Management System (LMS), hingga pengenalan tata tertib. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM) Harris Arthur Hedar memberikan apresiasi setinggi-tinginya kepada Presiden Prabowo Subianto atas langkah konkret mewujudkan pendirian Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Harris yang juga Wakil Rektor Universitas Jayabaya Jakarta itu, program Presiden Prabowo ini dirancang dengan pendekatan holistik untuk mengatasi masalah kemiskinan ekstrem dan tingginya angka putus sekolah.

Dampaknya, kata dia, bukan hanya menyentuh siswa, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas.

"Pendekatan yang holistik itu memiliki tujuan inti, yaitu memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan. Karena keluarga miskin dengan anak putus sekolah sangat mungkin akan menghasilkan generasi miskin berikutnya. Disinilah nilai strategis dari program ini," ujar Harris melalui keterangan tertulis, Rabu (27/8/2025).

Ketua Dewan Pembina Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) itu menilai, pendidikan dengan model asrama bagi anak-anak miskin dan putus sekolah bukan hanya menjamin akses pendidikan, tetapi juga peningkatan taraf hidup anak-anak melalui penyediaan fasilitas akomodasi dan nutrisi yang layak.

"Tentu terjadi peningkatan kualitas hidup, karena selain pendidikan akademik, sekolah dengan model asrama menjamin akomodasi dan nutrisi, juga membina karakter. Sehingga outputnya adalah individu yang lebih sehat, terampil, dan berdaya saing," ucap Harris.

Guru Besar UNM Harris Arthur Hedar lalu menekankan agar bangsa Indonesia memandang dengan jernih dan obyektif kebijakan ini.

 

Bangun Ketahanan Nasional

Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM) Harris Arthur Hedar memberikan apresiasi setinggi-tinginya kepada Presiden Prabowo Subianto atas langkah konkret mewujudkan pendirian Sekolah Rakyat. (Ist)

Menurut Harris, seluruh program Presiden Prabowo, mulai dari sekolah rakyat hingga makan bergizi gratis bagi siswa dan ibu hamil, bermuara pada satu tujuan besar, yakni membangun ketahanan nasional.

"Salah satu aspek ketahanan nasional adalah kualitas sumber daya manusia. Itu yang dicapai melalui pendirian sekolah rakyat dan program makan bergizi gratis," ucap dia.

"Selain ketahanan energi, pangan, dan pertahanan keamanan, Presiden juga menekankan pembangunan manusia sebagai fokus utama," sambung Harris yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN PERADI) ini.

Harris optimistis bila program ini konsisten dijalankan hingga menjangkau daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), maka peta jalan Indonesia Maju akan semakin nyata.

"Gagasan sekolah rakyat sejatinya bukan hal baru dalam sejarah pendidikan Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan, konsep sekolah rakyat lahir untuk memberi kesempatan bagi anak-anak dari keluarga sederhana memperoleh pendidikan dasar," terang dia.

"Sekolah rakyat atau “SR” saat itu menjadi jenjang pendidikan enam tahun, sebelum kemudian digantikan dengan Sekolah Dasar (SD) melalui reformasi pendidikan pada era 1970-an," sambung Harris.

 

Kembali Dihidupkan Presiden Prabowo

Kini, menurut Harris, istilah sekolah rakyat kembali dihidupkan dengan semangat baru oleh Presiden Prabowo.

Bedanya, kata dia, sekolah rakyat modern bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan dengan konsep asrama, penyediaan gizi, dan pembinaan karakter.

Harris menilai, pendekatan ini bertujuan menyelesaikan akar persoalan pendidikan sekaligus kemiskinan ekstrem yang masih menghantui banyak daerah di Indonesia.

"Transformasi inilah yang dipandang para akademisi dan praktisi sebagai langkah strategis. Sekolah rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi instrumen negara untuk memastikan tidak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena faktor ekonomi," ucap dia.

"Kalau ini berlanjut hingga ke pelosok dan daerah 3T, kita akan melihat generasi baru Indonesia yang lebih sehat, berpendidikan, dan memiliki daya saing global," tutup Harris.

Infografis 64 Sekolah Rakyat Tahap I Beroperasi Juli 2025. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya