Liputan6.com, Gaza - Sedikitnya 20 orang tewas dalam serangan ganda Israel yang menghantam Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Gaza selatan, pada Senin (25/8). Di antara korban terdapat lima jurnalis internasional yang bekerja untuk Reuters, Associated Press (AP), Al Jazeera, dan Middle East Eye.
Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mengonfirmasi jumlah korban, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut empat tenaga medis juga ikut kehilangan nyawa, dikutip dari laman BBC, Selasa (26/8/2025).
Advertisement
Rekaman dari lokasi memperlihatkan serangan kedua terjadi saat tim penyelamat datang menolong korban serangan awal. Ledakan lanjutan itu menghantam para petugas darurat serta jurnalis yang tengah meliput di sekitar rumah sakit.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut insiden tersebut sebagai “kecelakaan tragis” dan memastikan pihak militer sedang melakukan penyelidikan.
Jurnalis Jadi Korban
Media Reuters mengonfirmasi juru kameranya, Husam al-Masri, tewas saat mengoperasikan siaran langsung di atap rumah sakit. Fotografer lepas Hatem Khaled, yang juga bekerja untuk Reuters, dilaporkan terluka dalam serangan kedua.
AP menyatakan salah satu kontributornya, Mariam Dagga (33), juga meninggal dunia. Selain itu, Mohammad Salama dari Al Jazeera, Ahmed Abu Aziz dari Middle East Eye, serta fotografer Moaz Abu Taha turut menjadi korban.
“Kami sangat terpukul dan segera mencari informasi lebih lanjut,” tulis Reuters dalam pernyataan resmi. AP menyebut mereka “terkejut dan berduka” atas kehilangan jurnalis mereka.
Respons PBB
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam keras serangan itu.
“Pembunuhan mengerikan ini menyoroti risiko ekstrem yang dihadapi tenaga medis dan jurnalis yang bekerja di tengah konflik brutal,” ujarnya. Ia mendesak investigasi cepat, independen, serta gencatan senjata permanen.
Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, menilai serangan terhadap jurnalis sama saja dengan “membungkam suara terakhir yang melaporkan tragedi kemanusiaan di Gaza”.
Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy menyebut dirinya “ngeri” mendengar kabar tersebut, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron menilainya “tak tertahankan.”
Konflik Mematikan Bagi JurnalisKomite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat, hampir 200 jurnalis tewas di Gaza sejak perang pecah pada Oktober 2023. Angka itu menjadikan Gaza sebagai konflik paling mematikan bagi jurnalis yang pernah didokumentasikan.
Hingga kini, wartawan internasional dilarang masuk secara independen ke Jalur Gaza. Liputan banyak bergantung pada jurnalis lokal yang berada di garis depan.