Liputan6.com, Jakarta - Ada yang percaya dunia akan berakhir dalam kobaran api, ada pula yang yakin dalam es.
Sebagian lagi berpendapat, jika kiamat benar-benar datang lewat ledakan nuklir, umat manusia akan musnah, sementara kecoak justru bertahan dan akan tetap tinggal di Bumi, dikutip dari laman Mentalfloss, Senin (25/8/2025).
Advertisement
Gambaran itu terdengar muram: Homo sapiens lenyap akibat teknologinya sendiri, sementara serangga kecil yang dianggap hama justru terus hidup.
Tapi benarkah kecoak sekuat itu, atau hanya mitos sains belaka?
Jejak Sejarah dan Uji Ketahanan
Keyakinan bahwa kecoak kebal terhadap radiasi berakar sejak 1945, setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Laporan kala itu menyebut kecoak tetap berkeliaran di tengah reruntuhan, seakan-akan menjadi makhluk yang selamat dari bencana dahsyat tersebut.
Puluhan tahun kemudian, tim Mythbusters Discovery Channel menguji ketahanan kecoak Jerman terhadap radiasi kobalt-60.
Hasilnya mengejutkan: setelah sebulan dipaparkan dosis 1.000 rad -- cukup untuk membunuh manusia dalam 10 menit -- sekitar separuh kecoak masih hidup dan bahkan berkembang biak.
Dalam percobaan berikutnya, dosis ditingkatkan menjadi 10.000 rad, setara dengan paparan dari sebuah bom atom. Meski tingkat kematian tinggi, 10 persen kecoak tetap bertahan. Namun pada dosis ekstrem 100.000 rad, tak ada satu pun yang selamat. Artinya, kecoak memang memiliki daya tahan luar biasa, tapi tidak sepenuhnya kebal.
Hewan-hewan Super Tangguh Lainnya
Meski kecoak populer sebagai simbol ketahanan, ada makhluk lain yang jauh lebih perkasa. Tardigrada, misalnya, sudah terbukti mampu bertahan hidup di luar angkasa. Serangga penggerek kayu dan telurnya tahan hingga 68.000 rad, sementara lalat buah baru tumbang setelah 64.000 rad.
Juara sebenarnya adalah tawon parasit Habrobracon hebetor, yang sanggup bertahan pada paparan 180.000 rad—sekitar 200 kali lebih kuat dibanding manusia.
Namun, bertahan dari radiasi saja tidak cukup. Ledakan nuklir akan membawa perubahan lingkungan drastis dan krisis pangan. Itulah faktor yang kemungkinan besar akan menentukan apakah makhluk-makhluk ini benar-benar bisa terus hidup pasca-kiamat.
“Sulit memprediksi dampak jangka panjang radiasi pada hewan-hewan tersebut dan bagaimana hal itu akan memengaruhi rantai makanan,” jelas Corrie Moreau, profesor biosistematika artropoda dan keanekaragaman hayati di Universitas Cornell, kepada Newsweek. “Kita sungguh berharap eksperimen seperti ini tak perlu diulang di dunia nyata.”