Beras Premium Sudah Ada Lagi di Ritel Modern, Segini Harganya

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin berharap produksi baru benar-benar sesuai kualitas premium sehingga pasokan kembali stabil.

oleh Arief Rahman HDiperbarui 23 Agustus 2025, 19:42 WIB
Seorang kuli angkut menurunkan beras dari atas truk di Pasar Induk Cipinang, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Beras premium sudah mulai kembali mengisi rak-rak di toko ritel modern. Harga jual beras premium pun turun Rp 1.000 per kemasan 5 kilogram (kg).

Hal ini menyusul berkurangnya stok beras premium di ritel moderen pasca sebagian merek kedapatan melanggar mutu beras. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin memastikan produsen telah mulai mengirimkan beras hasil produksi terbaru sejak Agustus 2025.

“Harapan kami, produksi baru benar-benar sesuai kualitas premium sehingga pasokan kembali stabil. Kualitas harus dijaga karena beras premium selama ini menjadi andalan bagi konsumen,” kata Solihin dalam keterangannya, Sabtu (23/8/2025).

Menurut Solihin, sebagian ritel masih menampilkan stok lama yang belum sempat diretur. Beberapa produsen sebenarnya telah meminta retur, tetapi penggantian dengan produk baru masih menunggu realisasi. 

Adapun, produsen menurunkan harga sebesar Rp1.000 per kemasan lima kilogram. Dengan demikian, harga beras premium kini mencapai Rp 73.500 per kemasan lima kilogram, di bawah HET Rp 74.500.

Solihin mengakui penjualan sempat terpengaruh akibat keputusan peritel menurunkan produk lama yang terindikasi oplosan. “Volume penjualan berkurang karena merek beras yang terindikasi (oplosan) berkontribusi besar terhadap penjualan,” tegasnya. 

Salurkan SPHP

Sebagai upaya menekan kenaikan harga beras, pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk menyalurkan beras SPHP dengan harga jual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) di tingkat konsumen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan, pemerintah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menyalurkan beras dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Amran, tahun ini pemerintah menyalurkan hingga 1,3 juta ton beras dengan harga beras Rp12.500 per kilogram. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding penyaluran biasanya yang hanya berkisar 200 ribu hingga 300 ribu ton.

"Ini adalah hasil dari kerja keras teman-teman Bulog menyeluruhkan SPHP. Yaitu pangan murah dengan harga hanya Rp12.500 dan kita akan kucurkan 1,3 juta ton. Jadi sangat besar,” ujar Amran kepada wartawan usai menghadiri acara Panen Raya Jaksa Mandiri Pangan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (19/8/2025).

 

Harga Beras Turun

Untuk mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga, pemerintah akan mempercepat penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke pasar rakyat dan ritel modern. (merdeka.com/Arie Basuki)

Pada kesempatan yang sama, Amran menyampaikan harga beras kini menunjukkan tanda-tanda penurunan. Ia mengungkapkan, informasi yang diterimanya menyebut harga gabah di sejumlah wilayah produsen sudah berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan Rp6.500 per kilogram.

Kondisi itu diyakini akan berdampak pada turunnya harga beras di pasaran. 

"Sudah mulai turun. Kami ini, kami terima dua hari yang lalu, terima laporan harga padi di beberapa daerah penghasil beras itu. Nah, kalau sudah turun di hulu Insyaallah di hilir akan turun," jelas Amran.

 

Penurunan Belum Merata

Percepatan pendistribusian beras program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan minyak goreng Minyakita ke seluruh Wilayah Indonesia.

Beberapa daerah yang telah mencatatkan penurunan harga antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, serta Sulawesi Selatan. 

Meski demikian, penurunan tersebut belum merata, karena di Aceh dan Sumatera Utara harga beras masih relatif tinggi.

Amran menjelaskan, salah satu faktor yang mendorong turunnya harga adalah distribusi SPHP yang dijalankan Perum Bulog. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya