Koreksi Harga Bitcoin dari Level Tertinggi Masih Wajar

Bitcoin tetap naik lebih dari 25% pada 2025 meski volatilitas tinggi.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 22 Agustus 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Langkah pemerintah yang menunjukkan bitcoin (BTC) sebagai aset dan arus dana dari investor institusi dinilai menjadi faktor baru yang mendorong kenaikan harga bitcoin. Namun, harga bitcoin yang melemah dari posisi tertingginya dipicu aksi ambil untung oleh pelaku pasar.

Salah satu pendiri dan COO Botanix Labs, Alisia Painter menuturkan, penurunan harga bitcoin sebesar 6,5% baru-baru ini dari titik tertinggi sepanjang masa di dekat posisi USD 124.000 merupakan fungsi pasar yang dapat diprediksi dan sehat. Koreksi harga bitcoin, menurut dia bukan alasan untuk khawatir.

“Saya pikir faktor terpenting dan sesuatu yang kita lihat dalams etiap siklus adalah setelah Anda mencapai titik tertinggi sepanjang masa, ada sejumlah aksi ambil untung yang dilakukan oleh semua investor, dan itulah yang biasanya menyebabkan semacam penurunan,” kata Painter, seperti dikutip dari Kitco, ditulis Jumat (22/8/2025).

"Kami melihat setiap kali bitcoin mencapai titik tertinggi sepanjang masa, jadi ini sudah sangat diharapkan,” dia menambahkan.

Volatilitas meski tinggi, bitcoin tetap naik lebih dari 25% pada 2025. Hal itu didorong oleh faktor pendorng baru yang kaut. Painter menilai, pendorong utamanya regulasi dan masuknya dana institusi secara besar-besaran.

 

 

Aliran Dana Masuk ke ETF Bitcoin

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Sejak awal tahun, ETF bitcoin spot telah menyerap arus masuk bersih lebih dari USD 50 miliar atau sekitar Rp 816,14 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.322).

Tren ini disorot oleh laporan keuangan kuartal kedua 2025 terbaru yang menunjukkan pemain-pemain besar seperti dana abadi Universitas Harvard kini memegang posisi signifikan dalam produk ini.

“Dua faktor baru utama yang kita lihat dalam siklus ini adalah pertama, legitimasi pemerintah yang lebih luas terhadap bitcoin sebagai kelas aset, serta masuknya modal institusional melalui ETF,” ujar dia.

Sementara dana institusional membanjiri, strategi negara-negara justru berbeda. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent baru-baru ini mengonfirmasi AS tidak akan membeli Bitcoin baru, melainkan mengandalkan koin sitaan senilai USD 15 hingga US 20 miliar atau sekitar Rp 244,71 triliun-Rp 326,28 triliun yang ada untuk operasi strategis apa pun.

 

 

Aset Harus Produktif

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Sikap hati-hati AS ini sangat kontras dengan sikap negara-negara G20 lainnya. Brasil secara aktif mempertimbangkan untuk menambahkan Bitcoin ke cadangan bank sentral. Namun, Painter yakin fakta para pejabat AS bahkan menyusun strategi terkait kepemilikan Bitcoin mereka merupakan sinyal yang sangat optimistis.

"Saya pikir berita utama di sini adalah fakta bahwa AS bahkan agak mempertimbangkan konsep ini karena AS masih merupakan ekonomi terbesar di dunia," catat Painter.

Melampaui perannya sebagai "emas digital", sebuah narasi baru sedang terbentuk: finansialisasi Bitcoin. Total nilai terkunci (TVL) dalam protokol DeFi berbasis Bitcoin telah melonjak hingga lebih dari USD 30 miliar pada 2025, karena investor semakin banyak menggunakan kepemilikan mereka sebagai jaminan produktif.

"Pada akhirnya, Bitcoin adalah aset, dan aset harus produktif dan dimanfaatkan," kata Painter.

Ia  menekankan meningkatnya permintaan untuk mendapatkan imbal hasil dari kepemilikan Bitcoin.

 

 

Momen ETF Berikutnya

Ilustrasi Bitcoin. (Foto: Unsplash/Thought Catalog)

Tren ini meluas ke sektor ritel. Sebuah perintah eksekutif kini mengizinkan alokasi mata uang kripto dalam program pensiun 401(k), yang berpotensi membuka triliunan modal baru. Painter melihat ini sebagai perkembangan penting untuk adopsi arus utama.

"Penerimaan Bitcoin dan aset kripto dalam program 401(k) akan menjadi momen ETF berikutnya," prediksinya.

Bagi investor yang mencoba menavigasi era baru ini, saran utama Painter adalah berfokus pada keamanan dan edukasi.

"Lakukan riset Anda sendiri dan pahami asumsi kepercayaan yang terlibat dalam teknologi dan protokol tertentu, dan kendalikan investasi Anda sepenuhnya," sarannya, menekankan pentingnya penyimpanan mandiri.

"Membeli Bitcoin hanyalah langkah pertama. Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan dengan Bitcoin sebagai aset."

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Infografis bitcoin (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya