Liputan6.com, Jakarta Musik kerap dijadikan sebagai pelarian dari rasa penat, atau juga sebagai teman untuk mengisi suasana yang sepi. Tetapi, apakah benar musik itu bisa memperkuat ingatan?
Dilansir dari laman Earth, studi terbaru dari University of California Los Angeles (UCLA) menunjukkan bahwa musik dapat membentuk sebaik apa sesuatu bisa diingat. Efek ini tidak dipengaruhi oleh jenis musiknya, tetapi dari bagaimana musik tersebut dapat menarik emosi diri.
Advertisement
“Kami menemukan bahwa apakah musik itu negatif atau positif atau apakah itu familiar tidak memiliki pengaruh besar pada memori, dibandingkan dengan respons emosional yang dirasakan orang saat mendengarnya,” kata Stephanie Leal, rekan penulis studi tersebut.
Ia menekankan, respons emosional yang optimal yang membantu mengingat detail suatu pengalaman, yaitu tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.
“Respons emosional yang terlalu banyak atau terlalu sedikit justru memiliki efek sebaliknya–daya ingat yang lebih buruk untuk detail, tetapi daya ingat yang lebih baik untuk inti suatu pengalaman,” tambah Leal.
Musik, Memori, dan Emosi
Penelitian tersebut melibatkan sukarelawan yang diuji dengan melihat 100 gambar sambil mendengarkan musik klasik selama 10 menit.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa musik tidak meningkatkan daya ingat secara keseluruhan. Tetapi, musik sangat membantu sebagian orang–terutama untuk mengenali suatu gambar yang mirip tetapi tidak sama persis.
Peserta yang memiliki ingatan terbaik bukan yang merasakan emosi terkuat, tetapi mereka yang merasakan emosi secukupnya.
Memori bukan hanya tentang menangkap setiap detail, tetapi mengingat bagian besar dari pengalaman–yang disebut oleh peneliti memori berbasis intisasi.
“Musik membantu ingatan berbasis detail, tetapi hanya jika tingkat rangsangan emosionalnya tepat untuk orang tersebut,” kata Lean.
Musik Sebagai Terapi
Para peneliti menyebut bahwa bentuk “permainan” emosi semacam ini berpotensi bermanfaat dalam situasi nyata.
Misalnya, mendengarkan musik yang cukup membangkitkan semangat setelah belajar mungkin bisa membantu mengingat informasi lebih akurat untuk ujian. Tetapi, musik yang menimbulkan efek terlalu emosional justru bisa memberi efek sebaliknya.
“Musik memiliki kemampuan untuk memengaruhi bagian otak yang disebut hippocampus, yang sangat penting dalam mengubah pengalaman menjadi ingatan,” kata Leal.
“Kami berpikir, seharusnya mungkin untuk memanfaatkannya secara selektif guna meningkatkan atau justru melemahkan ingatan, tergantung pada tujuan terapi,” tambah Leal.
Manfaat musik ini tidak hanya terkait proses belajar. Pendekatan ini juga bisa membantu mengatasi masalah kehilangan ingatan pada usia lanjut, atau pada orang dengan tahap awal Alzheimer.
Sementara bagi penderita kecemasan atau PTSD, musik dapat membantu mereka mengingat garis besar pengalaman sulit–tanpa harus kembali merasakan detail menyakitkannya.
Musik Memiliki Efek yang Berbeda Bagi Setiap Orang
Tantangan dari penelitian ini adalah hasil emosional yang dibangun oleh musik bervariasi antar individu. Apa yang 'cukup membangkitkan gairah' bagi satu orang mungkin tidak sama bagi orang lain. Sehingga, penelitian ini hanya mengarah pada terapi yang disesuaikan secara pribadi.
“Di lab saya, kami mencoba mendeteksi perubahan pada otak dan kognisi sejak dini. Musik bersifat non-invasif, murah, dan mudah dipersonalisasi, dan dengan mempelajari lebih lanjut tentang mekanisme yang menghubungkannya dengan memori, kami dapat mengembangkan perawatan dan intervensi untuk mencegah perkembangan penyakit ini,” jelas Leal.
Artinya, msik bukan hanya sekadar daftar putar dan suara latar. Musik dapat menjadi cara ampuh untuk membentuk cara mengingat dan menyembuhkan diri, jika menemukan efek untuk menyempurnakan emosional.