Liputan6.com, Jakarta - Riuh pencari kerja di Jakarta Jobfest pada Selasa (19/8/2025) di Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur menyimpan ribuan harapan. Di balik poster dan stan 37 perusahaan yang tengah membuka lowongan kerja, ada wajah-wajah yang berharap kesempatan baru.
Bagi sebagian pencari kerja yang hadir di Jakarta Jobfest 2025 ini, bukan hanya persaingan yang jadi tantangan, tetapi juga syarat batasan usia yang kerap membatasi peluang.
Advertisement
Eva Puspita Sari (33), warga Kebon Pala, Jakarta Timur, misalnya. Dia datang dengan penuh semangat meski menyadari usianya yang sudah kepala tiga bisa jadi penghalang mencari kerja.
“Usia saya 33 tahun, termasuk pelamar yang sudah berumur jadinya tantangan tersendiri sih,” kata Eva.
Sebagai ibu rumah tangga (IRT), Eva bilang butuh penghasilan tambahan. Terlebih, Eva saat ini mempunyai satu orang anak yang duduk di bangku sekolah dasar (SD). Eva ingin bekerja agar bisa membantu suaminya menambah pemasukan, sekaligus bisa memberi sesuatu untuk orang tuanya.
“Saya lagi nganggur, jadi pengin kerja lagi supaya ada penghasilan tambahan,” ujarnya Eva.
Pernah jadi Guru Honorer
Sebelumnya, Eva sendiri pernah bekerja sebagai seorang guru honorer di Jakarta. Namun, gaji sebagai guru honorer disebut Eva terlalu kecil dan kesempatan jadi Aparatur Sipil Negara (ASN) terlalu lama.
“Kalau PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) iya (gajinya bagus), tapi itu nunggunya bisa 10–20 tahun, capek nunggunya,” kata dia.
Setelah berkeliling hall pameran, Eva menghela napas karena belum menemukan lowongan kerja yang sesuai dengan dirinya. “Belum nemu yang cocok. Kayak jadi kasir itu juga enggak apa-apa,” katanya.
Bukan hanya soal posisi pekerjaan yang tersedia di Jobfest, Eva juga menjadi salah satu pencari kerja yang harus melewati persyaratan batas usia. Eva berharap aturan tersebut bisa lebih fleksibel.
“Harapannya di Indonesia ini memang lebih dipanjangin lagi syarat usia cari kerja. Susah kalau ada syarat umurnya,” ucap Eva.
Cari Harapan Baru
Selain Eva, ada Muhammad Diro (30), perantau asal Jambi yang juga mempunyai cerita serupa. Ia datang ke Jakarta untuk mencari harapan baru setelah sebelumnya bekerja sebagai freelancer di bidang travel.
“Kalau jujur, saya enggak mau lagi kerja sesuai pengalaman kerja sebelumnya. Penginnya di satu tempat, kayak di gudang atau kantor,” tutur Diro.
Sayangnya, di beberapa lowongan pekerjaan yang ia temui di Jobfest, syarat usia kembali jadi batas yang mustahil dilewatu. “Beberapa kali nemu lowongan yang mentok di umur dan pendidikannya harus S1,” katanya.
Menurut Diro, jika ingin pekerjaan yang lebih layak, usia memang bisa jadi penghalang besar. “Kalau kita pengin kerja yang lebih bagus, ya terhambat sih,” ucap Diro.
Merantau di Jakarta
Bagi Diro, kondisi ini cukup ironis, apalagi setelah mendengar janji pemerintah untuk menciptakan jutaan lapangan kerja. Terlebih, sebagai putra daerah dirinya rela merantau jauh di Jakarta.
“Sekarang susah cari kerja, apalagi buat saya sebagai perantau,” kata dia.
Oleh karenanya, Diro berharap Jobfest bukan sekadar acara seremonial. Dia juga ingin agar pemerintah merevisi syarat usia.
“Kita lihat saja, Jobfest ini nanti benar-benar terbuka prosesnya atau tidak,” pungkasnya.