Kementan Bareng Forum Indonesia Emas dan Unas Dorong Gen Z Wujudkan Swasembada Pangan

Ketua Kelompok Substansi Perencanaan Sekretariat BPPSDMP Kementerian Pertanian Saptorini menilai Gen Z punya potensi besar untuk mendukung swasembada pangan salah satunya dengan menjadi pelaku usaha.

oleh Tim NewsDiperbarui 19 Agustus 2025, 11:32 WIB
Pelestarian air demi mencapai swasembada pangan. Dok

Liputan6.com, Jakarta - Generasi Z atau Gen Z memiliki peran strategis dapat terwujudnya swasembada pangan di Indonesia. Hal ini disampaikan saat forum terbuka bertajuk 'Diskusi Motivasi – Politik Gen Z Mendobrak Swasembada Pangan di Indonesia'.

Acara digelar Forum Indonesia Emas bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Selasa (19/8/2025) di Ruang Seminar Cyber Universitas Nasional, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Acara yang diikuti 30 mahasiswa rumpun ilmu pertanian, ilmu politik dan ilmu komunikasi ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Kelompok Substansi Perencanaan Sekretariat Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian (BPPSDMP Kementan) Saptorini, dosen Agroteknologi Universitas Nasional Tengku Laila Kamaliah, serta Duta Urban Farming Jakarta 2024 Amirah Balqis.

"Krisis pangan global akibat cuaca ekstrem berpotensi menimbulkan konflik sosial dan politik, termasuk inflasi pangan, kenaikan harga beras, dan ancaman kelaparan," ujar Ketua Kelompok Substansi Perencanaan Sekretariat BPPSDMP Kementan Saptorini dalam akun media sosial Instagram @fie_indonesiaemas yang disampaikan melalui keterangan tertulis, Selasa (19/8/2025).

Ia menyoroti tantangan pertanian domestik, salah satunya dominasi petani berusia tua dengan jumlah petani muda yang masih terbatas, yakni hanya 21,93% dari total petani nasional.

"Gen Z punya potensi besar untuk mendukung swasembada pangan dengan menjadi pelaku usaha, penggerak kelembagaan, hingga pemimpin masa depan. Mereka memiliki kapasitas adaptif, literasi digital tinggi, visi progresif, dan jejaring luas untuk memimpin transformasi pertanian," ucap Saptorini.

 

Program Kementerian Pertanian

Dalam forum diskusi, Kementan menilai Gen Z punya potensi besar untuk mendukung swasembada pangan salah satunya dengan menjadi pelaku usaha. (Ist)

Saptorini menambahkan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menggulirkan program Brigade Pangan serta Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS).

Dia mengatakan program YESS sudah memberikan manfaat bagi 198.316 pemuda desa melalui pelatihan, hibah kompetitif, pemagangan, dan literasi keuangan. Selain itu, kata Saptorini, Kementan juga mendistribusikan alat pertanian modern seperti traktor, rice transplanter, dan combine harvester.

"Pemerintah sangat pro anak muda. Pertanian modern dengan teknologi digital adalah daya tarik baru untuk mempercepat swasembada pangan sebagaimana ditargetkan Presiden Prabowo Subianto," terang dia.

Sementara itu, dosen Agroteknologi Universitas Nasional Tengku Laila Kamaliah menekankan, swasembada pangan mustahil tercapai tanpa kehadiran petani. Ia mengkritisi persepsi negatif masyarakat bahwa pertanian bersifat tradisional dan berpenghasilan rendah.

"Padahal, omzet petani bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah, bahkan menembus miliaran jika sudah ekspor," kata Laila.

 

Asta Cita Presiden Prabowo

Menurut Laila, Gen Z dan milenial juga bisa berperan dengan dukungan teknologi digital, mulai dari e-commerce, pengemasan modern, hingga promosi melalui media sosial. Laila menyebut perlunya influencer pertanian untuk mengedukasi publik tentang teknologi pertanian modern.

"Dengan adanya Asta Cita Presiden Prabowo, kami berharap sektor pertanian semakin diperhatikan. Saya mengajak mahasiswa untuk berani menjadi petani modern demi mewujudkan Indonesia Emas 2045," papar dia.

Sebagai perwakilan generasi muda, Amirah Balqis berbagi pengalamannya dalam dunia urban farming. Ia menjelaskan bahwa pertanian perkotaan dapat mendukung ketahanan pangan meski di tengah keterbatasan lahan.

"Pertanian kini sudah modern dan tidak lagi dianggap kuno atau kotor. Bahkan, banyak anak muda sukses berbisnis dari pertanian dengan memanfaatkan media sosial. Ada contoh pengusaha jamur yang bisa meraih omzet puluhan juta rupiah per minggu," ucap Amirah.

Ia menambahkan, bertani tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan mental.

"Bagi Gen Z, pertanian bisa menjadi bentuk healing. Pemerintah pun banyak memberikan pelatihan yang mudah diakses lewat internet. Jangan takut memulai dari langkah kecil karena peran kita sangat dibutuhkan untuk masa depan pangan Indonesia," jelas Amirah.

Infografis Bahan Pangan Lokal Bernutrisi tapi Jarang Diketahui. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya