Liputan6.com, Jakarta - Suasana Upacara di Lapangan Lapas Kelas I Cipinang, Minggu (17/8/2025), tampak berbeda. Betapa tidak, ketika Sang Saka Merah Putih berkibar, tidak hanya petugas, tapi juga enam narapidana teroris (napiter) ikut tegak memberi hormat.
Dari total 2.268 Warga Binaan, sekitar 300 orang dipilih mewakili tiap blok untuk ikut upacara HUT ke-80 RI. Barisan napi berbagai kasus berdiri, sebagian menunduk khusyuk. Ketika bendera mulai naik ke puncak tiang, air mata menetes di pipi seorang napiter berinisial BS.
Advertisement
“Dulu saya punya pandangan yang salah tentang negara. Tapi hari ini, saya berdiri tegak di bawah bendera Merah Putih dengan perasaan berbeda. Saya ingin berubah dan berkontribusi positif," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca seperti dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (17/8/2025).
Upacara dipimpin Yulius Jum Hertantono selaku Inspektur Upacara. Dalam amanatnya, ia menekankan kemerdekaan bukan sekadar simboh sejarah. Tetapi juga amanah untuk diwujudkan dalam perubahan sikap dan perilaku yang lebih baik, termasuk bagi para Warga Binaan.
"Mengibarkan bendera adalah tanda kebanggaan terhadap bangsa. Ketika dilakukan oleh Warga Binaan, apalagi napiter, hal ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang. Inilah esensi pemasyarakatan, yaitu menghadirkan proses pembinaan yang menumbuhkan kesadaran akan nasionalisme dan persatuan,” kata dia.
Tanamkan Kembali Nasionalisme
Kalapas Cipinang, Wachid Wibowo, menambahkan, peringatan HUT RI adalah sarana menanamkan kembali nasionalisme.
"Kemerdekaan adalah hak seluruh bangsa. Melalui peringatan HUT RI, kami ingin meneguhkan kembali semangat persatuan, sekaligus menanamkan kesadaran bahwacinta tanah air adalah bagian penting dalam proses pembinaan,” ujar dia.
Selain upacara bendera, peringatan HUT RI di Lapas Cipinang juga diramaikan dengan berbagai lomba khas kemerdekaan yang melibatkan petugas dan Warga Binaan. Semangat kebersamaan, sportivitas, dan gotong royong menjadi nilai utama yang dihidupkan dalam setiap kegiatan.