Liputan6.com, Jakarta - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, suasana meriah atribut merah putih terlihat jelas di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Meski lorong-lorong pasar penuh dengan bendera dan perlengkapan upacara, kenyataannya omzet para pedagang justru mengalami penurunan tajam, bahkan mencapai 70 persen dibanding tahun lalu.
Siti Kusmayati (48), pemilik Toko Tunas Karya Mandiri, mengungkapkan bahwa omzet tahun ini sangat jauh menurun. "Turunnya 70 persen. Jauh, jauh banget. Kalau tahun kemarin masih mending, sekarang jauh berbeda," ujarnya kepada Liputan6.com, ditulis Selasa (12/8/2025).
Advertisement
Menurut Siti, stok barang yang disiapkan tahun ini juga berkurang drastis, dari sebelumnya lebih dari seribu meter kain kini hanya sekitar seribu meter saja.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Sri Yati (40), penjaga Toko Sheraton Advertising. "Omzet tahun ini terjun bebas. Sejak pandemi Covid-19 memang sudah turun setengahnya, tapi sekarang lebih parah lagi," kata Sri.
Salah satu penyebab utama penurunan omzet ini adalah meningkatnya persaingan dari penjualan online. Munculnya berbagai platform e-commerce membuat konsumen lebih memilih belanja lewat daring, sehingga pembeli di pasar tradisional menurun.
Pedagang Makin Banyak
Meski begitu, Siti dan Sri juga memanfaatkan penjualan online untuk menambah jangkauan pembeli. Namun, kontribusi penjualan daring terhadap omzet mereka masih belum signifikan.
“Penjualan online dan offline hampir seimbang, tapi ramai di online tetap tidak sebanyak dulu karena sekarang banyak yang jualan juga,” kata Sri.
Siti menambahkan, pembelian secara langsung masih lebih diminati sebagian orang karena mereka bisa melihat dan memilih barang secara nyata. Namun, kendala teknis membuat Siti kurang maksimal berjualan online, seperti harus melakukan siaran langsung (live) yang tidak dikuasainya.
Persaingan ketat di era digital semakin menekan bisnis mereka. Selain itu, kenaikan harga bahan baku juga memaksa pedagang menaikkan harga jual, namun pelanggan sering kali masih menawar harga lama.
“Setiap tahun harga bahan baku pasti naik, apalagi saat musim pesta seperti ini. Tapi pembeli kadang tetap menawar dengan harga lama. Kami mau tidak mau harus terima, asal masih ada untung sedikit untuk bayar gaji dan operasional,” ujar Siti.
Harga Bahan Baku
Sri juga mengaku harga bahan baku naik terus dari tahun ke tahun, kadang hingga ratusan ribu rupiah, tergantung produk.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, Siti dan Sri berharap usaha mereka kembali ramai seperti dulu. Yang penting, mereka bisa bertahan agar karyawan yang menggantungkan hidup pada toko-toko itu tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.