Liputan6.com, Jakarta - Ketua Komite Pemuda UNDP Indonesia Nila Murti memaparkan upaya lembaganya dalam menekan angka pengangguran di kalangan anak muda melalui program kewirausahaan yang dirancang khusus bagi mereka yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan (not in employment, education, or training/NEET).
Menurut Nila, kelompok NEET berbeda dengan pengangguran murni.
Advertisement
"Kalau pengangguran murni itu aktif mencari pekerjaan, sedangkan kelompok NEET tidak mencari kerja dan juga tidak terlibat dalam kegiatan produktif," jelasnya dalam acara di Menara Thamrin, Jakarta, Senin (11/8/2025).
UNDP berupaya memberdayakan kelompok ini melalui pelatihan dan pendampingan wirausaha, khususnya di sektor cultural micro entrepreneurship yang memanfaatkan potensi lokal. Program ini banyak menyasar wilayah di luar Pulau Jawa, termasuk daerah dengan keterbatasan akses internet dan informasi.
"Kami ingin pemuda di desa mengenali potensi lokalnya, entah itu komoditas pertanian atau produk khas daerah. Mereka tidak harus menjadi petani, tapi bisa memulai usaha ultramikro yang nantinya dapat berkembang," ujarnya.
Selain pelatihan keterampilan usaha, UNDP juga memberikan bimbingan untuk memasarkan produk secara digital, termasuk melalui e-commerce. Kolaborasi dengan mahasiswa juga dilakukan agar pengetahuan akademis dapat diaplikasikan membantu pelaku ultramikro.
"Kalau usaha ultramikro naik kelas menjadi mikro, mereka akan mulai mengakses pembiayaan. Di tahap ini, pencatatan keuangan yang rapi dan persyaratan formal menjadi penting, dan kami bantu mempersiapkan itu," kata Nila.
Nila menegaskan, mendorong wirausaha di kalangan pemuda tidak hanya membuka peluang kerja baru, tetapi juga menciptakan multiplier effect di komunitas. "Harapannya, mereka tidak hanya menghidupi diri sendiri, tapi juga bisa menciptakan lapangan kerja di daerahnya," tutupnya.