Analis: Saham DSSA dan CUAN Masuk Indeks MSCI Bakal Picu Aliran Dana Institusi Global

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menanggapi perubahan konstituen di indeks MSCI.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 Agustus 2025, 06:30 WIB
Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Analis menilai rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dapat mendorong aliran dana institusi global masuk ke pasar saham Indonesia.

MSCI mengumumkan perubahan konstituen di indeks MSCI Indonesia pada 7 Agustus 2025. Pada rebalancing indeks MSCI periode Agustus 2025, MSCI memasukkan saham emiten PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masuk ke dalam daftar MSCI Global Standard Index. Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) keluar dari MSCI Global Standard dan pindah ke MSCI Small Cap Index.

Adapun saham emiten yang masuk ke MSCI Small Cap Index antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT MNC Tourism Indonesia Tbk  (KPIG), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menuturkan, MSCI rebalancing Agustus 2025 menjadi momentum penting menunjukkan pergeseran sentimen global terhadap sektor energi Indonesia.

“Masuknya CUAN dan DSSA mencerminkan ekspektasi pertumbuhan, sementara keluarnya ADRO dari indeks utama mencerminkan redistribusi nilai pasca spinoff ke AADI, yang kini masuk ke MSCI Small Cap menunjukkan dinamika indeks global tidak hanya mencerminkan performa, tetapi juga strategi restrukturisasi korporasi dan arah bisnis jangka panjang,” kata dia dalam catatannya.

Ia menambahkan, ke depan, BEI dan emiten baru harus bekerja sama untuk meningkatkan visibilitas global supaya peta aliran dana asing kian merata dan inklusif.

Liza juga menilai, saham DSSA dan CUAN masuk MSCI Global Standard index berpotensi memicu aliran dana dari dana institusi global. Hal ini mengingat banyaknya passive fund yang mereplikasi indeks terebut.

“Berdasarkan historis kasus serupa, saham yang masuk ke MSCI Global Standard rata-rata mengalami kenaikan volume dan harga 1–2 pekan menjelang effective date, seiring aksi front-running oleh investor ritel dan aktif fund,” kata dia.

 

 

Alasan DSSA dan CUAN Masuk MSCI

Pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,9% ke level 5.996,14. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Namun, ia mengatakan, pergerakan cenderung volatile menjelang hari H karea aksi ambil untung atau sell on news. “Berdasarkan pengamatan terakhir Kiwoom Research, foreign net buy telah masuk ke IHSG (all market) selama tiga hari terakhir pada 6-8 Agustus sebesar Rp 1,65 triliun,” ujar dia.

Selain itu, Liza memaparkan sejumlah faktor masuknya DSSA dan CUAN ke indeks MSCI Global Standard.  Pertama, kapitalisisasi pasar yang meningkat drastis selama 12 bulan terakhir. Kedua, likuiditas yang membaik terutama pada CUAN setelah kenaikan harga signifikan pada semester I 2025. Ketiga, kesesuaian struktur free float dan ownership publik terhadap standar MSCI.

“DSSA unggul dari sisi aset energi terbarukan melalui entitas SMMA dan PLTU. Sedangkan CUAN mencatatkan pertumbuhan agresif dari aset batu bara dan cadangan eksplorasi baru,” kata Liza.

 

Dampak Jangka Panjang Emiten Baru Masuk MSCI

Nilai transaksi hingga akhir perdagangan pada Selasa (8/4/2025) mencapai Rp 20,41 triliun dengan melibatkan 22,65 miliar saham dalam 1,43 juta kali transaksi. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Di sisi lain, saham AADI dan RATU yang masuk indeks MSCI, Liza menilai hal itu menjadi contoh langka emiten baru seiring kurang dari satu tahun pencatatan saham langsung masuk MSCI Small Cap Index. “Masuknya dua nama baru ini juga mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kualitas emiten baru, serta potensi transformasi sektor energi dan infrastruktur,” kata dia.

Ia menilai, hal itu didorong sejumlah faktor antara lain lonjakan kapitalisasi pasar sejak penawaran saham perdana, peningkatan likuiditas transaksi di pasar sekunder, dan struktur kepemilikan yang sesuai kriteria MSCI.

Liza menambahkan, jika semakin banyak emiten baru Indonesia dapat masuk ke indeks global seperti MSCI, berdampak positif terhadap reputasi BEI sebagai investable market.

Hal ini berpotensi meningkatkan daya tarik IPO di sektor yang strategis, mendorong perbaikan kualitas pelaporan keuangan dan tata kelola, memperluas partisisipasi investor institusi asing dengan memperbesar kolam investasi Indonesia sebagai negara atau market layak investasi.

"Namun, agar ini terjadi lebih luas, BEI perlu aktif mendampingi emiten baru dalam membangun struktur free float, governance serta pelaporan yang kompatibel dengan kriteria indeks global,” kata Liza.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya