32 Pelajar SD dan MI di Sukabumi Keracunan, Sampel MBG Diuji Laboratorium

Sebanyak 32 pelajar dari dua sekolah dasar di Desa Cipamingkis, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makan bergizi gratis.

oleh Fira SyahrinDiperbarui 07 Agustus 2025, 23:16 WIB
Pelajar di Sukabumi keracunan

Liputan6.com, Jakarta Sebanyak 32 pelajar dari dua sekolah dasar di Desa Cipamingkis, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makan bergizi gratis (MBG) berupa nasi kuning, Rabu (6/8). dan para korban langsung mendapat penanganan dari tim medis Puskesmas Cidolog.

Kepala Puskesmas Cidolog, Cepi Hermansyah mengaku menerima laporan awal pada pukul 14.00 WIB.

"Laporan pertama dari bidan desa kepada pembina desa. Karena jumlah korbannya cukup banyak, kami langsung membentuk tim, berkoordinasi dengan pihak desa, TNI dan Polri untuk meluncur ke lokasi," ungkap Cepi, Kamis (7/8).

Tim dibagi menjadi dua untuk menangani korban yang berada di lokasi berbeda. Cepi menyebut, 21 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan di Kedusunan Cikadu, sementara 11 orang lainnya ditemukan di Kedusunan Tugu. Total korban mencapai 32 orang dari dua sekolah, SD dan MI (Madrasah Ibtidaiyah).

"Gejala yang dialami para siswa bervariasi, mulai dari mual, muntah, hingga demam," jelas Cepi.

Dia menambahkan, tim medis masih menduga penyebabnya adalah keracunan karena hasil uji laboratorium belum keluar.

"Kami sudah mengambil sampel makanan, yaitu nasi kuning dan telur dadar, serta sampel air di lingkungan sekitar untuk diuji di laboratorium," tambahnya.

Satu Korban Sempat Dirawat Intensif

Dari puluhan korban, satu siswa berusia 9 tahun harus dirawat inap di Puskesmas Cidolog karena kondisinya cukup parah. Siswa tersebut dirawat semalam dan diperbolehkan pulang pada keesokan harinya setelah kondisinya membaik.

"Tadi pagi saya cek ke desa, semua siswa yang sebelumnya mengalami gejala sudah pulang dan kondisinya membaik. Kami juga sampai melakukan kunjungan dari rumah ke rumah karena sulit mengumpulkan mereka pada malam hari," ungkapnya.

Untuk memastikan penyebab pasti keracunan, tim dari Dinas Kesehatan juga ikut mengambil sampel makanan.

"Dari dinas mengambil sampelnya, dan sampel tersebut ada sampel pembanding langsung dari dapur MBG yang diduga menjadi sumber makanan. Tugas kami di Puskesmas hanya mengambil sampel di lokasi kejadian," tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya