Liputan6.com, Jakarta - Indeks MSCI Indonesia sedang menjadi sorotan. Apalagi setelah tiga saham milik pengusaha Prajogo Pangestu yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) resmi tidak lagi mendapatkan exceptional treatment dalam peninjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk periode Agustus 2025.
Hal itu membuka peluang bagi ketiganya, khususnya BREN, untuk masuk ke dalam konstituen indeks global tersebut.
Advertisement
Seiring hal tersebut, apa itu MSCI Index?
Indeks Morgan Stanley Capital International merupakan indeks yang dirilis lembaga riset Morgan Stanley. Perusahaan riset investasi ini menyediakan indeks saham, analisis risiko, dan kinerja portofolio, serta perangkat tata kelola bagi investor institusional dan dana lindung nilai atau hedge funds, termasuk MSCI Emerging Market Index dan MSCI Frontier Market Index.
Mengutip Investing.com, Capital International mengenalkan sejumlah indeks saham pada 1965 untuk mencerminkan pasar internasional, indeks pasar saham global pertama untuk pasar di luar Amerika Serikat.
Saat Morgan Stanley membeli hak lisensi data capital pada 1986, perusahaan itu mulai memakai akronim MSCI. Pada 2004, MSCI mengakuisisi Barra sebuah perusahaan manajemen risiko dan analisis portofolio senilai USD 816,4 juta atau Rp 13,31 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.307).
Setelah merger, terjadi spin-off dalam penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada 2007, dan MSCI mulai diperdagangkan di Bursa Efek New York dengan kode saham MXB. Perusahaan itu menjadi perusahaan publik sepenuhnya independent dan berdiri sendiri dari Morgan Stanley pada 2009.
Perusahaan itu menyediakan berbagai instrument investasi kepada kliennya termasuk dari Barra dan RiskMetrics. Perusahaan juga menerbitkan indeks yang tersedia secara luas bagi investor publik.
Tujuan MSCI
Adapun tujuan MSCI ini menyediakan perangkat untuk mendukung dan menginformasikan dalam dunia investasi. Perseroan menyediakan riset, data dan perangkat untuk membantu klien menganalisis dan investasi di berbagai pasar global.
MSCI juga dikenal dengan indeks saham yang dipakai sebagai tolok ukur bagi manajer investasi atau lembaga keuangan lainnya yang melacak berbagai pasar global.
Mengutip laman mstock.miraeasset.co.id, sejumlah institusi keuangan besar memakai indeks ini sebagai acuan untuk membentuk portofolio investasi. Jadi saat sebuah saham masuk ke indeks MSCI, permintaan terhadap saham itu akan mendorong lonjakan seiring akan dibeli manajer dana yang mengikuti indeks.
Saham harus memenuhi sejumlah syarat ketat untuk dapat masuk indeks MSCI, antara lain:
1.Likuiditas memadai: saham aktif harus diperdagangkan dengan volume tertentu
2.Kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float (FFMC): Semakin besar FFMC, semakin tinggi peluang masuk indeks
3.Struktur kepemilikan saham yang tersebar: saham dengan kepemilikan terlalu terkonsentrasi sering kali dikecualikan dari indeks
Indeks MSCI Indonesia
Lalu apa itu rebalancing index?
Rebalancing index ini proses penyesuaian komposisi saham dalam suatu indeks. Hal ini dilakukan berkala supaya indeks tetap mencerminkan kondisi pasar terkini berdasarkan kriteria yang telah ditentukan antara lain kapitalisasi pasar, likuiditas dan sektor industri.
Indeks MSCI Indonesia
Sementara itu, mengutip laman MSCI, indeks MSCI Indonesia dirancang untuk mengukur kinerja segmen kapitalisasi pasar besar dan menengah di pasar Indonesia. Dengan 17 konstituen, indeks ini mencakup sekitar 85% dari pasar saham Indonesia. Peninjauan indeks dilakukan setiap tahun yang menjadi dua jenis utama. Pertama, peninjauan kuartalan dilaksanakan pada Februari dan Agustus. Kemudian peninjauan semi tahunan pada Mei dan November.