Rojali-Rohana di Mana-mana, Kok Bisa Ekonomi Tumbuh 5,12%?

Data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 versi BPS juga dikritisi, karena sudah melewati momentum Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 06 Agustus 2025, 17:30 WIB
Seorang pria sibuk memilih pakaian yang mendapatkan diskon 50 persen di Lotte Mall, Jakarta. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mempertanyakan data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 5,12 persen yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data itu dinilai anomali lantaran berbeda dari kondisi riil.

Keakuratan data pertumbuhan ekonomi nasional itu pun disorot lantaran munculnya fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya-nanya) yang marak terjadi di sektor perdagangan.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho, lantas menyoroti data kinerja 5 sektor industri yang menyumbang porsi 32 persen dari angka pertumbuhan ekonomi.

Khususnya untuk dua sektor industri, yang menurut catatan BPS tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025. Yakni sektor industri pengolahan sebesar 5,68 persen, serta industri perdagangan besar dan eceran sebesar 5,37 persen.

"Kita melihat industri pengolahan non migas tumbuhnya cukup tinggi, 5,6 persen. Tetapi ketika kami coba konfirmasi kepada teman-teman dari retailer dan juga kami tanyakan dari asosiasi, bahwa justru triwulan kedua terlihat tidak begitu tinggi," kata Andry dalam sesi webinar, Rabu (6/8/2025).

"Bahkan fenomena Rojali dan Rohana ini salah satu yang mendorong kinerja dari perdagangan di industri retail tidak seperti tahun-tahun sebelumnya," dia menekankan.

 

Akomodasi dan Makan Minum Tumbuh Impresif

Tak hanya gerai pakian, gerai sepatu yang ada di pusat perbelanjaan itu juga ramai dikunjungi pembeli. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Di luar itu, Andry pun melihat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sedang tidak produktif. Imbas program efisiensi anggaran yang membuat pemerintah menekan ongkos belanja.

Sebaliknya, BPS justru menghitung sektor penyediaan akomodasi dan makan minum melesat hingga 8,04 persen secara tahunan (YoY) di kuartal II 2025.

"Dengan restriksi tersebut dan efisiensi yang dilakukan pemerintah, seharusnya pertumbuhan dan penyediaan akomodasi menurun. Tapi sangat mencengangkan, meskipun pertumbuhannya tidak sebesar tahun lalu, tetapi jauh (tumbuh) di atas pertumbuhan ekonomi," bebernya.

 

Melesat Lebih Tinggi dari Ramadhan dan Lebaran

Pusat perbelanjaan di Kota Jakarta memberikan diskon besar-besaran. Mulai dari diskon 20% hingga 80%. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 versi BPS juga dikritisi, karena sudah melewati momentum Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri. Seperti diketahui, Ramadhan dan Idul Fitri kerap jadi patokan pertumbuhan ekonomi tinggi, lantaran konsumsi masyarakat meningkat pesat.

Adapun pada dua momen suci umat Islam yang terjadi di kuartal I 2025, pertumbuhan ekonomi nasional hanya menyentuh 4,87 persen.

"Apakah memang pertumbuhan di triwulan II bisa diindikasikan semacam anomali, atau ada semacam window dressing? Data konsensus ekonom, perbankan, semua memperkirakan (pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025) di bawah 5 persen, semua salah," ungkapnya.

"Ini beberapa hal yang tentunya kita perlu pertanyakan kembali kepada BPS, apakah sebetulnya data-data ini adalah data yang sebetulnya valid yang mencerminkan kondisi di lapangan," tegas Andry.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya