Respons Rusia Usai AS Ancam India Gara-Gara Beli Minyaknya

Ketegangan antara India dan Amerika Serikat memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif secara drastis usai India beli minyak dari Rusia.

oleh Linda Maulina KhairunnisaDiterbitkan 06 Agustus 2025, 19:30 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Rusia angkat suara dalam perselisihan antara India dan Amerika Serikat yang semakin memanas, dengan menyatakan New Delhi memiliki hak penuh untuk menentukan mitra dagangnya sendiri pada Selasa, 5 Agustus 2025.

Perselisihan bermula dari kebijakan impor minyak Rusia oleh India, yang memicu kemarahan para pemimpin Washington. Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan memberlakukan tarif yang jauh lebih tinggi jika India tetap membeli minyak dari Rusia. Demikian mengutip dari CNBC, Rabu (6/8/2025).

Kremlin, yang sebelumnya memilih diam meski menjadi mitra dagang utama India, akhirnya menanggapi ancaman tersebut dengan menyebut bahwa langkah Trump adalah “upaya untuk memaksa negara-negara menghentikan hubungan dagang dengan Rusia.”

"Kami tidak menganggap pernyataan tersebut sah,” lanjut sekretaris pers Kremlin Dmitry Peskov, kepada wartawan pada Selasa.

Rusia menyatakan setiap negara berdaulat memiliki hak untuk menentukan sendiri mitra dagang serta pola kerja sama ekonominya, sesuai dengan kepentingan nasional masing-masing.

Sementara itu, ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan India menjadi sorotan para investor, setelah Trump pada Senin, 4 Agustus mengancam akan "menaikkan tarif secara substansial" terhadap India, meskipun tidak merinci besaran kenaikannya. Sebelumnya, ia juga telah mengancam akan memberlakukan bea masuk sebesar 25 persen terhadap ekspor India, disertai ancaman "denda" yang belum dijelaskan secara rinci.

Trump turut menuding India membeli minyak dari Rusia dengan harga diskon, lalu menjualnya kembali di pasar terbuka demi meraup keuntungan besar. Dilansiar dari wawancara dengan program “Squawk Box” CNBC pada hari Selasa, ia mengatakan bahwa tarif terhadap India bisa dinaikkan melebihi angka 25 persen dalam waktu 24 jam.

“India bukanlah mitra dagang yang baik ... jadi kami sepakat pada 25 persen, tetapi saya pikir saya akan menaikkannya secara substansial dalam 24 jam ke depan, karena mereka membeli minyak Rusia, mereka mendanai mesin perang, dan jika mereka akan melakukan itu, saya tidak akan senang,” kata Trump.

 

India Kritik AS dan UE

Ilustrasi bendera India. (Unsplash)

Sebagai tanggapan, India balik menyindir Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dalam pernyataan pada Senin, 4 Agustus 2025, Kementerian Luar Negeri India menuduh kedua pihak bersikap munafik.

“Sangat terungkap bahwa negara-negara yang mengkritik India justru terlibat dalam perdagangan dengan Rusia. Berbeda dengan kasus kami, perdagangan semacam itu bahkan bukan kewajiban nasional yang vital [bagi mereka],” ujar Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.

Negara-negara Barat telah menerapkan sanksi dan pembatasan impor sebagai upaya untuk menekan pendapatan ekspor minyak Rusia, yang dianggap mendanai agresinya terhadap Ukraina. Meski begitu, sejumlah negara mitra dagang Rusia, khususnya India dan Tiongkok, tetap melanjutkan pembelian minyak mentah dari Moskow dengan harga diskon yang menjadi penopang penting bagi perekonomian mereka.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, hubungan perdagangan antara India dan Rusia justru menguat. Rusia kini menjadi salah satu pemasok utama minyak bagi India.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS, impor minyak Rusia oleh India melonjak dari kurang dari 100.000 barel per hari sebelum perang atau sekitar 2,5 persen dari total impor menjadi lebih dari 1,8 juta barel per hari pada 2023, yang mencakup 39 persen dari keseluruhan impor minyak India.

 

India Lawan Balik Trump: AS juga Masih Bisnis dengan Rusia!

Ilustrasi bendera India (AFP Photo)

Sebelumnya, India menyebut ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengenakan tarif besar karena negara itu telah membeli minyak dari Rusia sebagai sesuatu yang tidak benar dan tidak masuk akal.

Presiden AS mengunggah pengumuman di Truth Social yang menyatakan akan menaikkan tarif India, dengan menyebutkan: “India tidak khawatir tentang berapa banyak orang di Ukraina yang tewas di tangan Mesin Perang Rusia.”

Dikutip dari BBC, Selasa (5/8/2025), India sudah menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia. Beberapa negara Eropa telah mengurangi perdagangan mereka sejak Rusia memulai invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022, menjadikannya pasar ekspor penting bagi Moskow.

Trump belum mengumumkan besaran tarif baru tersebut, tetapi ancaman tarif ke India tersebut muncul beberapa hari setelah ia mengumumkan tarif substansial sebesar 25 persen untuk India.

Dalam pernyataan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, mengindikasikan bahwa AS pada awal konflik dengan Rusia telah mendorong India untuk mengimpor gas Rusia, “untuk meningkatkan kesehatan pasar energi global.”

Ia mengatakan “India mulai mengimpor dari Rusia karena pasokan tradisional dialihkan ke Eropa setelah pecahnya konflik," jelas dia. 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya