Lubian Kena Bobol: 127 Ribu Bitcoin Raib, Peretas Jadi Salah Satu “Orang Terkaya” Kripto

Lubian, salah satu penambang Bitcoin terbesar asal China, menjadi korban peretasan pada 2020 yang menyebabkan hilangnya lebih dari 127.000 BTC. Investigasi Arkham mengungkap kelemahan sistem keamanan sebagai penyebabnya.

oleh Satria Aji SaputraDiterbitkan 06 Agustus 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Lubian, perusahaan tambang Bitcoin asal China, ternyata menjadi korban dari salah satu peretasan terbesar dalam sejarah kripto. Peristiwa ini terjadi pada Desember 2020, namun baru terungkap secara luas pada Agustus 2025 melalui laporan dari Arkham Intelligence. Dalam serangan itu, sebanyak 127.426 Bitcoin dicuri. Saat kejadian, nilai kerugian diperkirakan mencapai USD 3,5 miliar, namun melonjak drastis menjadi USD 14,5 miliar mengikuti kenaikan harga Bitcoin.

Dikutip dari Bitcoin.com, Rabu (6/8/2025), Lubian bukan pemain kecil. Pada masa kejayaannya, perusahaan ini menguasai sekitar 6% dari total hashrate Bitcoin global, beroperasi di dua negara besar—China dan Iran. Ketika peretasan terjadi pada 28 Desember 2020, Lubian kehilangan hampir semua cadangan BTC-nya. Serangan lanjutan bahkan terjadi keesokan harinya, dengan pencurian tambahan berupa BTC dan USDT dari sistem pembayaran Omni Layer yang berjalan di atas Bitcoin.

Yang mengejutkan, insiden ini tidak pernah dipublikasikan secara resmi oleh Lubian, membuatnya menjadi peretasan kripto bernilai fantastis yang nyaris hilang dari radar publik dan media selama hampir lima tahun.

Upaya Menyelamatkan Dana

Setelah menyadari adanya serangan siber, pihak Lubian bertindak cepat untuk menyelamatkan sisa dana yang belum dicuri. Pada 31 Desember 2020, Lubian memindahkan aset kripto yang masih tersisa ke dompet pemulihan yang lebih aman. Namun upaya itu dilakukan di tengah kondisi panik dan tekanan besar, mengingat hampir seluruh cadangan perusahaan telah raib.

Yang menarik, Lubian bahkan mencoba menghubungi para peretas. Mereka mengirim pesan langsung melalui transaksi on-chain—sebuah metode yang mengandalkan catatan permanen di blockchain untuk menyampaikan komunikasi. Dalam upaya ini, Lubian menghabiskan sekitar 1,4 Bitcoin dan mengirimkan 1.516 transaksi berbeda ke alamat dompet yang digunakan oleh peretas.

Langkah ini mencerminkan besarnya keputusasaan perusahaan untuk menyelamatkan sebagian aset atau setidaknya membuka jalur negosiasi. Namun, hingga kini belum diketahui apakah pesan-pesan itu pernah mendapat tanggapan. Perusahaan juga tidak pernah mengumumkan hasil investigasi internal atau mengungkap secara resmi adanya peretasan ke publik, yang membuat kasus ini tertutup selama bertahun-tahun.

 

Arkham Bongkar Dalang di Balik Peretasan dan Modus Operasi

Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Laporan dari Arkham Intelligence menjadi titik terang dalam pengungkapan kasus ini. Arkham menyebut bahwa Lubian kemungkinan besar menggunakan algoritma pembangkitan kunci privat yang lemah. Celah ini memungkinkan peretas melakukan brute-force attack, yakni teknik yang mencoba berbagai kombinasi hingga berhasil menembus keamanan sistem dompet kripto.

Selain itu, Arkham menyatakan bahwa pencurian terjadi karena lemahnya sistem manajemen cold wallet yang digunakan oleh Lubian. Hal ini membuat sistem penyimpanan BTC mereka rawan diakses secara ilegal oleh pihak luar. Setelah berhasil mencuri, peretas memindahkan BTC ke beberapa dompet berbeda untuk menyulitkan pelacakan. Aktivitas terbaru dari dompet-dompet itu tercatat pada Juli 2024, ketika dilakukan konsolidasi dana—menggabungkan sisa BTC ke alamat yang lebih besar.

Arkham juga menyebut bahwa inilah kali pertama informasi peretasan ini muncul ke publik. Investigasi mereka menunjukkan bahwa tidak ada upaya transparansi dari Lubian kepada komunitas kripto atau pemangku kepentingan lain selama lima tahun terakhir. Hal ini memicu pertanyaan besar mengenai tata kelola dan manajemen risiko di perusahaan tambang kripto skala besar.

 

Peretas Lubian Kini Masuk Daftar “Orang Terkaya” Kripto

Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Dengan kepemilikan sebesar 127.426 BTC, peretas Lubian kini menduduki posisi ke-13 sebagai pemilik Bitcoin terbesar di dunia, menurut peringkat Arkham. Nilai aset yang mereka kuasai saat ini diperkirakan mencapai lebih dari USD 14,5 miliar, menjadikannya sebagai salah satu aktor non-pemerintah terkaya dalam ekosistem Bitcoin.

Jumlah itu bahkan lebih besar dibandingkan dengan hasil curian dari kasus peretasan Mt. Gox—bursa kripto asal Jepang yang sempat menjadi simbol kegagalan keamanan sistem pada 2014. Arkham menyatakan bahwa pelaku peretasan Lubian bisa dikategorikan sebagai "whale" kripto yang sangat berpengaruh, meskipun mereka belum memindahkan aset dalam jumlah signifikan selama beberapa tahun terakhir.

Pengungkapan ini menandai salah satu momen penting dalam dunia forensik blockchain. Tak hanya membuka kasus lama, tetapi juga menunjukkan bahwa jejak digital di dunia kripto hampir selalu dapat ditelusuri, sekalipun pelaku berusaha menyembunyikan identitasnya. Kasus Lubian menjadi pelajaran besar bagi seluruh pelaku industri—bahwa keamanan sistem tetap menjadi titik paling rawan dalam bisnis aset digital.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya