Daya Beli Menguat saat Libur Panjang: Konsumsi Rumah Tangga Kuartal II Tumbuh 4,97%

BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97% di kuartal II-2025, didorong oleh hari libur, pariwisata, dan meningkatnya mobilitas masyarakat.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 Agustus 2025, 14:50 WIB
Sejumlah kendaraan memasuki gerbang tol Jagorawi, Jakarta, Rabu (8/7/2015). Pemerintah mulai Selasa (7/7) pukul 00.00 WIB memberikan diskon tarif seluruh ruas jalan tol sebesar 25-35 persen sampai Rabu (22/7) pukul 24.00 WIB. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tren konsumsi ini menjadi salah satu penyumbang utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2025 tumbuh sebesar 4,97 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan periode yang sama tahun lalu.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Wilayah BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi ini didorong oleh melonjaknya kebutuhan primer dan meningkatnya mobilitas masyarakat.

"PKRT tumbuh lebih tinggi baik dibandingkan Q-2 2024 maupun Q-1 2025. Faktor yang mendorong konsumsi rumah tangga utamanya adalah meningkatnya kebutuhan primer dan mobilitas rumah tangga," kata Edy dalam konferensi pers BPS, Selasa (5/8/2025).

Faktor musiman seperti hari libur dan perayaan hari besar keagamaan turut memberikan dorongan signifikan terhadap belanja rumah tangga.

"Kita tahu tadi mobilitas penduduk cukup tinggi di triwulan II, kemudian meningkatnya kebutuhan primer untuk beberapa kegiatan ya, karena memang ada momentum hari libur, hari besar keagamaan dan sebagainya," ujarnya.

Selain itu, kegiatan pariwisata selama periode libur berkontribusi besar dalam mendorong konsumsi, khususnya di sektor makanan dan minuman. Aktivitas masyarakat yang meningkat juga menyebabkan permintaan terhadap layanan transportasi dan akomodasi tumbuh pesat.

"Kebutuhan bahan makanan dan makanan jadi meningkat karena aktivitas pariwisata selama periode libur. Sedangkan peningkatan mobilitas masyarakat menyebabkan peningkatan konsumsi transformasi dan akomodasi," jelas Edy.

 

Lonjakan Mobilitas Picu Kenaikan Belanja Transportasi dan Akomodasi

PT Jasa Marga yang akan memberikan diskon sebesar 20 persen untuk tarif terjauh di Jalan Tol Jakarta-Cikampek bagi pemudik yang mudik Lebaran lebih awal.

Salah satu indikator penting dari meningkatnya konsumsi rumah tangga adalah tingginya mobilitas masyarakat. Edy Mahmud menyebutkan, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tumbuh signifikan, mencapai 22,32 persen YoY pada kuartal II-2025. Bahkan secara kuartalan (Q-to-Q), pertumbuhannya mencapai 17,34 persen.

"Mobilitas perjalanan memanfaatkan hari libur ditunjukkan oleh perjalanan Wisnus yang tumbuh 22,32 persen secara year on year dan bahkan dibandingkan dengan triwulan I secara Q to Q tumbuh 17,34 persen," ujarnya.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih aktif dalam melakukan perjalanan selama periode libur, yang pada akhirnya berdampak pada konsumsi sektor transportasi dan pariwisat.

 

Impor Barang Konsumsi Turut Naik

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Disisi lain, volume transaksi di Gerbang Tol Otomatis (GTO) Jasa Marga juga mencerminkan peningkatan mobilitas darat. Data menunjukkan kenaikan sebesar 2,86 persen secara Q-to-Q dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa jalan tol masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam melakukan perjalanan darat.

Selain dari sisi domestik, indikator lain yang mencerminkan meningkatnya konsumsi rumah tangga adalah naiknya impor barang konsumsi. Edy menyebut, impor barang konsumsi meningkat 7,60 persen YoY dan bahkan naik 9,80 persen secara kuartalan.

"Kemudian setelah permintaan rumah tangga tertahan, optimisme meningkat pada kuartal II sehingga juga bertampak pada penaikan impor barang konsumsi yang naik 7,60 persen secara year on year dan 9,80 persen secara Q to Q," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya