Ekspor-Impor Melonjak, BPS: Bukan karena Tarif Trump

Komoditas utama yang menopang ekspor Indonesia selama triwulan II antara lain minyak kelapa sawit (CPO), besi dan baja termasuk feronikel. BPS memastikan lonjak

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 Agustus 2025, 14:15 WIB
Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Perbaikan kinerja ekspor dari Kuartal II sebesar minus 11,7 persen menjadi minus 10,8 persen di Kuartal III dan kuartal IV menjdi pijakan untuk perbaikan ditahun 2021. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan pertumbuhan tinggi terjadi pada komponen ekspor dan impor belum berkaitan langsung dengan kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Wilayah BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa tarif tambahan dari AS belum berlaku pada periode yang dicatat dalam rilis triwulan II 2025.

"Seingat saya tarif itu kan belum diberlakukan ya, nanti berlakunya efektif di Agustus. Jadi, mungkin bisa jadi ada penyesuaian-penyesuaian tapi sampai dengan Juni 2025 tarif baru itu memang belum diberlakukan," kata Edy dalam konferensi pers Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025, Selasa (5/8/2025).

Edy menambahkan bahwa komoditas utama yang menopang ekspor Indonesia selama triwulan II antara lain minyak kelapa sawit (CPO), besi dan baja termasuk feronikel, batu bara, mesin dan peralatan listrik, serta minyak dan gas bumi.

"Kemudian besi dan baja, jadi ekspor veronikel kita besi dan baja termasuk kategori ini juga cukup tinggi, bahan bakar mineral terutama batu bara, mesin dan peralatan listrik serta migas," ujarnya.

Meski belum dipengaruhi tarif baru dari AS, kinerja ekspor dan impor Indonesia tercatat meningkat tajam pada triwulan II 2025. Lonjakan ini dinilai sebagai indikasi positif dari meningkatnya aktivitas ekonomi global serta permintaan terhadap komoditas unggulan Indonesia.

"Nah sementara tarif Trump ini baru akan direncanakan berlaku pada 7 Agustus ya, 7 Agustus 2025. Jadi, ini kondisi yang tadi saya sampaikan kondisi sampai dengan bulan Juni 2025," ujarnya.

 

Faktor Pendorong Ekspor-Impor

Aktifitas kapal ekspor inpor di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/5). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 1,24 miliar . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Edy menjelaskan bahwa, pertumbuhan tinggi terjadi pada komponen ekspor dan impor. Pertumbuhan ekspor didorong oleh kenaikan nilai ekspor non-migas dan kunjungan wisatawan mancanegara.

"Sementara, pertumbuhan impor didorong oleh kenaikan impor barang modal serta bahan baku penolong baik secara nilai maupun volume," ujarnya.

Lebih lanjut, Edy menyampaikan, jika dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan II-2025, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu 2,64 persen dari 5,12 persen pada pertumbuhan ekonomi ditriwulan II-2025.

 

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025

Surplus yang didapat pada periode Juni 2024 berasal dari nilai transaksi ekspor yang mencapai 20,84 miliar dolar AS, serta impor sebesar 18,45 miliar dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 sebesar 5,12 persen secara tahunan atau year on year.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Wilayah, Moh. Edy Mahmud, mengatakan pada triwulan II-2025 secara year on year seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif kecuali konsumsi Pemerintah.

Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 54,25 persen.

"Pada triwulan II-2025 komponen ini tumbuh cukup kuat yakni sebesar 4,97 persen. Hal ini mengindikasikan masih kuatnya permintaan domestik," kata Edy dalam konferensi pers BPS Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025, Selasa (5/8/2025).

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya