Menko Airlangga Bongkar Rahasia Indonesia Bisa Turunkan Tarif Trump jadi 19 Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkap rahasia dibalik suksesnya penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) jadi 19 persen.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 31 Juli 2025, 17:45 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat rapat koordinasi, Jumat, (23/5/2025). (Foto: ekon.go.id)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkap rahasia dibalik suksesnya penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) jadi 19 persen. Salah satunya imbas paket komplit yang ditawarkan dalam perdagangan kedua negara.

Diketahui, Indonesia mendapat tarif impor 19 persen pada negosiasi lanjutan. Angka ini turun cukup tinggi dari sebelumnya ditetapkan 32 persen oleh Presiden AS Donald Trump.

"Ya pertama Indonesia salah satu yang katakanlah secara runtun bernegosiasi kemudian Indonesia membuat paket yang komplit dan relatif paket itu digunakan oleh semua negara," kata Airlangga dalam Liputan6 Talks, di SCTV Tower, Jakarta, Rabu (30/7/2025).

"Jadi ada unsur tarifnya, ada non tariff barrier-nya, kemudian ada unsur komersialnya, ada pembelian energinya. Karena template-nya relatif seperti itu," imbuh dia.

Airlangga membandingkan tarif 19 persen yang dikenakan ke Indonesia dengan beberapa negara lain. Misalnya dari sisi defisit neraca perdagangan antara Amerika Serikat dan negara mitra dagangnya.

Beberapa negara yang disebut yakni Jepang, Singapura, dan Australia. Neraca dagang Amerika Serikat dan tiga negara ini termasuk positif. Namun, tetap dikenakan tarif dasar 10-15 persen atas produk-produknya masuk ke AS.

"Jadi ini bukan soal apa-apa tetapi ya tentu apa yang dilakukan Amerika ini tidak sama antara satu negara dengan negara lain," tegas dia.

 

Peluang Bagi Produk RI

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Airlangga memandang, tarif 19 persen yang jadi kesepakatan ini membuka peluang produk RI bisa bersaing. Mengingat lagi, AS menjadi negara dengan porsi ekonomi besar, mencapai USD 30 triliun.

"Jadi dia adalah market bagus untuk manufacturing product ya, berbeda dengan negara lain yang juga besar tetapi dia juga menerima bahan baku atau semi produk," ucapnya.

"Nah kemudian makanya hampir semua negara yang manufacture good-nya kuat ekspornya ke Amerika. Nah Indonesia itu kan USD 1,3 triliun ekonomi dan dengan kapasitas produksi yang ada itu kita butuh pasar yang lebih besar," imbuh Menko Airlangga.

 

Industri Tancap Gas

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah Indonesia tak menyetorkan data pribadi masyarakat ke pemerintah Amerika Serikat (AS).

Diberitakan sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa keberhasilan negosiasi penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat terhadap produk asal Indonesia menjadi 19% merupakan peluang besar bagi industri nasional.

Kebijakan ini dinilai akan mendorong kinerja sektor-sektor padat karya, seperti tekstil, alas kaki, dan furniture, yang selama ini menghadapi tekanan berat di pasar ekspor.

“Keberhasilan dari negosiasi penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat untuk Indonesia menjadi 19% diperkirakan dapat mendorong kinerja sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furniture,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK yang digelar di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Senin (28/7/2025).

 

Jadi Angin Segar

Menteri Koordinardinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam Liputan6 Talks, di SCTV Tower, Jakarta, Rabu (30/7/2025). Airlangga buka-bukaan perjalanan negosiasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). Indonesia menjadi salah satu negara yang lebih dulu menemui kesepakatan tarif sebesar 19 persen.

Menurutnya, penurunan tarif ini memberikan angin segar bagi pelaku industri yang bergantung pada pasar ekspor AS.

Sebelumnya, tarif tinggi menjadi penghambat daya saing produk Indonesia di pasar global. Dengan penyesuaian tersebut, biaya masuk produk Indonesia akan menjadi lebih rendah sehingga meningkatkan daya tarik di mata konsumen luar negeri.

Namun di sisi lain, dampak dari kebijakan ini tidak hanya berhenti pada peningkatan ekspor. Pemerintah juga mencermati kemungkinan masuknya produk-produk asal Amerika Serikat dengan tarif 0% ke Indonesia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya