Robin van Persie, Barcelona, dan Sebuah Mimpi yang Tak Pernah Kesampaian

Di balik semua prestasinya, Van Persie menyimpan satu penyesalan kecil yang terus terngiang dalam benaknya.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 30 Juli 2025, 12:58 WIB
Robin Van Persie dibeli MU dari Arsenal dengan harga 22,5 juta poundsterling. Penyerang Belanda itu menjadi salah satu pilihan terbaik Sir Alex sebelum dirinya pensiun dari MU. (AFP/Andrew Yates)

Liputan6.com, Jakarta Robin van Persie dikenal sebagai salah satu penyerang terbaik Eropa di abad ke-21. Bersama Arsenal dan Manchester United, ia menorehkan 144 gol dalam 280 pertandingan Premier League—rekor yang membuktikan kualitas dan insting golnya.

Namun, di balik prestasi itu, Van Persie menyimpan satu penyesalan kecil yang terus terngiang dalam benaknya. Ia pernah bermimpi membela Barcelona, klub yang sejak dulu ia kagumi, tetapi sayangnya kesempatan itu tak pernah datang.

Dalam sebuah wawancara, Van Persie akhirnya mengungkap cerita tentang mimpinya yang tak kesampaian itu. Sebuah kisah yang menyentuh sisi emosional dari perjalanan karier seorang legenda.


Barcelona dalam Angan, Bukan Kenyataan

Striker Belanda yang pensiun pada Juli 2019 bersama Feyenoord dan kini tengah dipercaya membesut Feyenoord U-18, Robin van Persie menjadi pemain kedua yang sukses mencetak hattrick ke gawang Chelsea di Stamford Bridge pada era Premier League. Momen itu terjadi pada pekan ke-10 Premier League musim 2011/2012 saat timnya Arsenal menang 5-3 atas Chelsea (29/10/2011). (AFP/Adrian Dennis)

Van Persie mengakui bahwa bermain untuk Barcelona adalah mimpi masa kecil yang selalu ia harapkan terwujud. “Saya selalu ingin bermain untuk Barcelona, dan saya selalu berharap itu bisa jadi kenyataan, karena itu benar-benar impian saya,” ucapnya, dikutip oleh jurnalis Ayim Derrick.

Momen harapan itu hampi menjadi kenyataan ketika Barcelona sempat menunjukkan minat kepada dirinya. Hanya saja, ketertarikan itu datang di waktu yang kurang tepat bagi Van Persie.


Ketika Harapan Tinggal Harapan

Logo Barcelona dalam ukuran besar jelang final Liga Champions antara Barcelona melawan Juventus di Berlin, 6 Juni 2015. (AFP/Kay Nietfeld)

Setelah meninggalkan Manchester United, Van Persie bergabung dengan Fenerbahce pada musim panas 2015. Enam bulan setelah pindah ke Turki, ia mendengar kabar bahwa Barcelona menunjukkan ketertarikan padanya.

“Saya ingat Barcelona sempat menunjukkan ketertarikan enam bulan setelah saya pindah ke Fenerbahce dan saya berharap kesepakatan itu terjadi,” kata Van Persie. Sayangnya, harapan itu pupus sebelum sempat berkembang.


Kabar Buruk dari Sang Agen

Striker Fenerbahce, Robin Van Persie, saat tampil melawan Galatasaray pada laga Liga Turki di Stadion Ulker Sukru Saracoglu, Turki, Minggu (20/11/2016). (AFP/Ozan Kose)

Van Persie mengungkap bahwa ia sempat menantikan telepon konfirmasi dari sang agen mengenai transfer impiannya. Namun, kabar yang datang justru mengecewakan.

“Akan luar biasa jika kepindahan itu terjadi, tapi agen saya menelepon dan berkata, ‘Itu tidak akan terjadi’,” ujarnya dengan nada getir. Pada akhirnya, Van Persie tetap di Fenerbahce hingga 2018.


Penutup Karier dan Awal Baru

Van Persie mengaku mendapatkan ucapan selamat dari mantan pelatihnya di Arsenal, Arsene Wenger. Hal tersebut diungkapkan pria 41 tahun itu dalam sesi konferensi pers perdana sebagai pelatih Feyenoord. (AFP/ANP/Koen van Weel)

Setelah tiga musim di Fenerbahce dan tampil dalam 87 pertandingan, Van Persie memutuskan pulang ke Feyenoord. Ia pensiun setahun kemudian dan menutup kariernya di klub masa kecil yang juga membesarkan namanya.

Kini, Van Persie menapaki jalan baru sebagai pelatih tim utama Feyenoord. Namun, mimpi memperkuat Barcelona yang tak pernah kesampaian akan selalu menjadi sebuah penyesalan kecil dalam benaknya.

Sumber: Barca Universal

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya