Liputan6.com, Phnom Penh - Warga yang mengungsi di perbatasan barat laut Kamboja kini menanti kepastian untuk kembali ke rumah mereka, setelah lima hari konflik sengit dengan Thailand berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku Senin (28/7/2025) malam.
Di bawah tenda darurat yang dibangun di tanah berlumpur dekat kota perbatasan Samraong, Meun Saray, seorang perempuan berusia 45 tahun, menggendong anaknya sambil berharap bisa segera pulang, dikutip dari laman Japan Today, Selasa (29/7).
Advertisement
"Kalau pemerintah bilang desa saya sudah aman, saya ingin pulang dan berkumpul lagi dengan keluarga. Hidup di sini jauh lebih sulit dibandingkan di rumah sendiri," katanya.
Kondisi kota Samraong, ibu kota Provinsi Oddar Meanchey, sangat sepi. Jalanan lengang dan toko-toko tutup setelah mayoritas dari 70.000 penduduknya mengungsi.
Kota ini berjarak sekitar 320 kilometer dari Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Dalam sepekan terakhir, Samraong menjadi titik panas dalam bentrokan bersenjata paling intens antara Kamboja dan Thailand dalam lebih dari satu dekade terakhir, menyusul sengketa perbatasan yang memuncak sejak 24 Juli 2025
"Orang-orang pergi karena takut perang," ujar Inn Theary, pedagang kaki lima yang memilih tetap tinggal karena tak memiliki cukup uang untuk mengungsi.
"Sebagian orang tinggal bersama keluarga mereka, yang lainnya di kamp pengungsian. Tapi bagi orang miskin seperti saya, kami tetap di sini untuk mencari uang agar anak-anak tetap bisa makan."
Letupan senjata masih terdengar di wilayah perbatasan O Smach pada Senin sore, menurut Meach Sovannara, Ketua Partai Generasi Baru dari kubu oposisi. Ia menyebut beberapa rumah warga terkena peluru nyasar, menyebabkan korban luka.
"Peluru tidak mengenal kebangsaan. Baik Kamboja maupun Thailand sama-sama jadi korban," kata Sovannara.
"Perang adalah bencana. Keluarga tercerai-berai. Orang tak bisa bertani, berdagang, belajar. Ada yang luka, bahkan kehilangan nyawa."
Ketegangan Terbaru Mulai Mei 2025
Perselisihan perbatasan antara kedua negara sebenarnya telah berlangsung selama puluhan tahun. Ketegangan terbaru meningkat sejak akhir Mei lalu ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan kecil, memicu pengerahan pasukan di sepanjang 800 km garis perbatasan.
Kedua negara akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata "segera dan tanpa syarat" dalam pertemuan di Malaysia yang dimediasi oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Pertemuan ini digelar setelah hampir sepekan konflik yang menewaskan sedikitnya 38 orang, mayoritas warga sipil.
Meskipun bentrokan kecil sempat terjadi setelah kesepakatan diumumkan, Penjabat Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai pada Selasa menyatakan situasi kini sudah mulai kondusif.
Namun, rasa waswas masih menyelimuti warga yang mengungsi.
"Saya sangat ingin pulang, tapi saya belum berani," ujar Seun Ruot, ibu rumah tangga berusia 47 tahun. "Saya lebih memilih menunggu sampai hari ini atau besok, untuk memastikan semuanya benar-benar aman."