Liputan6.com, Kyiv - Bohdana Zhupanyna seharusnya menghabiskan dua minggu terakhir kehamilannya dengan tenang -- belajar mengasuh anak dan menyiapkan segala hal untuk kelahiran putri kecilnya. Namun, kenyataan berkata lain.
Perempuan berusia 30 tahun ini justru berdiri di tengah reruntuhan apartemennya di lantai dua sebuah gedung di Kyiv. Serangan pesawat nirawak (drone) Rusia pada 21 Juli telah menghancurkan tempat tinggalnya, dikutip dari laman Japan Today, Selasa (29/7/2025).
Advertisement
"Saya tidak tahu, nasib macam apa ini… kenapa harus terjadi seperti ini?" ucapnya sambil memegangi perutnya yang membuncit, sementara cahaya matahari menyorot dari lubang besar di dinding ruang tamu—dulu tempat yang nyaman, kini hanya puing.
Di sekelilingnya, sisa-sisa kehidupan berumah tangga berserakan: potongan sofa, tempat tidur yang hangus, dan rak dapur yang tertutup debu serta pecahan kaca.
Seperti jutaan warga Ukraina lainnya, Zhupanyna hidup dalam bayang-bayang serangan udara yang terus berlangsung selama berbulan-bulan. Serangan-serangan itu telah menewaskan puluhan orang dan menghancurkan keseharian warga sejak upaya damai gagal pada musim semi lalu.
Serangan terbaru bahkan datang dalam gelombang besar, melibatkan ratusan drone. Di Kyiv, delapan orang terluka saat drone-drone itu menghantam berbagai titik, dan pasukan Rusia terus bergerak di garis depan.
Zhupanyna sedang tidak berada di rumah ketika serangan terjadi. Ia bersyukur sang ibu berhasil menyelamatkan diri dan tak mengalami luka. Namun, satu hal yang membuatnya terpukul adalah melihat serpihan logam tajam dari drone musuh menancap di kamar mandinya yang sebelumnya dirancang dengan penuh cinta dan harapan.
"Itu bukti bahwa mereka menyerang area sipil, terutama apartemen tempat orang tinggal," katanya dengan getir.
Kerusakan di Lingkungan Tempat Tinggal
Kerusakan tak hanya terjadi di apartemennya. Di sekitar lokasi, sebuah stasiun metro, sejumlah toko, dan bangunan tempat tinggal lainnya juga mengalami kehancuran.
Sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai pada Februari 2022, ribuan warga sipil telah menjadi korban. Moskow bersikeras bahwa target mereka adalah infrastruktur penting seperti jaringan listrik untuk melemahkan kemampuan tempur Ukraina. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan banyaknya kawasan sipil yang turut menjadi korban.
Sebaliknya, Ukraina juga meluncurkan serangan balasan ke kota-kota di Rusia menggunakan senjata jarak jauh. Meskipun begitu, dampaknya jauh lebih kecil dibandingkan kerusakan di Ukraina.
Peningkatan serangan terhadap warga sipil inilah yang menjadi alasan Amerika Serikat—di bawah Presiden Donald Trump—memutuskan untuk kembali mengirimkan bantuan militer ke Kyiv, termasuk sistem pertahanan udara.
"Rusia harus berhenti membunuh kami," ujar Zhupanyna tegas. Ayahnya sendiri telah gugur di medan perang, memperjuangkan tanah airnya.
"Dan untuk Trump… saya ingin dia melakukan lebih banyak lagi untuk membantu kami."