Setelah 11 Hari Tinggal di Asrama Sekolah Rakyat

Risau, sedih dan rindu, kini yang dirasakan Muhammad Faiz (12). Sudah hampir dua pekan tak bertemu orangtuanya. Dia juga kini tak tinggal di rumah.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiperbarui 25 Juli 2025, 09:13 WIB
muhammad faiz dan Gilang siswa sekolah rakyat di sentra handayani jakarta timur (Liputan6.com/Radityo Priyasmoro)

Liputan6.com, Jakarta Risau, sedih dan rindu, kini yang dirasakan Muhammad Faiz (12). Sudah hampir dua pekan tak bertemu orangtuanya. Dia juga kini tak tinggal di rumah.

Faiz bersama 74 pelajar lainnya tengah mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat. Sistem pendidikan asrama khusus bagi masyarakat yang kurang mampu.

Sejak 14 Juli 2025, Faiz tinggal di asrama yang berada di Sentra Handayani Jakarta Timur. 

Seolah tak rela melepas pelukan orangtuanya saat hari pertama ‘mondok. Rangkulan teman seperjuangan seolah mengkuatkan hati. Demi menggapai cita-cita di masa depan kelak. Rasa rindu pun berubah jadi optimis. Apalagi, banyak teman sebaya yang tinggal bersama.

"Senang sekali bisa bermain bersama teman-teman, enak!" celetuk dia saat diwawancara Liputan6.com.

Jam dinding menunjukkan Pukul 04.00 WIB. Faiz harus bergegas bangun dari tempat tidur empuknya. Di sisi kanan dan kirinya tampak para sahabatnya pun tengah bersiap. Dari ruang kamar berukuran 4 x 4 meter dengan ranjang tingkat, Faiz beranjak.

Ya, di Sekolah Rakyat semua anak yang beragama muslim wajib salat Subuh berjemaah. Meski mata berat, Faiz tetap semangat.

Faiz cerita, usai salat, setiap murid wajib mengikuti serangkaian kegiatan pagi sebelum jam belajar dimulai. Seperti senam kebugaran jasmani, membersihkan kamar dan lingkungan sekolah hingga bergantian untuk mandi. 

"Setelah mandi, kami bersiap untuk menuju ruang makan. Sudah disediakan sarapan sebelum kelas dimulai," jelas Faiz.

Sarapan menjadi sesuatu yang wajib di Sekolah Rakyat. Tidak sedikit pelajar yang mengaku tidak terbiasa sarapan.  Terkadang, menu yang disuguhkan tidak cocok berdasarkan kriteria selera.

Gilang, teman seangkatan Faiz, mengaku tidak suka makan ikan. Tapi tak ada pilihan lain. Dia harus tetap mengisi perutnya, agar kuat beraktivitas. "Tidak sukanya ikan," kata Gilang malu-malu.

Sekolah Rakyat melarang para siswanya untuk jajan di luar lingkungan akademis. Gilang merasa senang mondok di sekolah ini.

Dulu, Gilang hobi sekali main handphone. Semenit pun tak bisa melepas tanggannya dari gadget. Bahkan bisa tidur sangat larut karena asik bermain game online. 

Awalnya, dia khawatir. Tak mungkin bisa lepas dari HP saat masuk Sekolah Rakyat. Namun setelah berjalan 10 hari, dia mampu menjalankan aktivitas tanpa ketergantungan gadget.

Suasana Malam

sekolah rakyat di sentra handayani jakarta timur (Liputan6.com/Radityo Priyasmoro)

Layaknya anak-anak pada umumnya. Para siswa Sekolah Rakyat gemar sekali bercanda. Apalagi sebelum tidur. Setelah lelah seharian beraktivitas. Arifin, siswa lainnya, memanfaatkan waktu malam untuk bercanda sejenak dengan teman satu kamarnya.

"Setelah selesai salat isya, kami semua harus masuk kamar untuk mengerjakan tugas bila ada dan mempersiapkan pelajaran esok hari. Tapi kami juga sering bercanda sebelum tidur atau ngobrol," beber dia.

Suasana kamar selalu ramau di malam hari. Wali asuh sebagai pengingat mereka. Istirahat penting untuk bersiap menjalankan aktivitas lagi besok.

"Diingetin kalau belum tidur disuruh lekas tidur," ucap Arifin yang sebelumnya terbiasa begadang bermain gadget.

11 Hari berlalu. Tanpa tinggal satu atap dengan orangtua. Mereka tak bisa menyembunyikan rasa rindunya. 

Kangen dengan ayah dan ibu di rumah. Tapi mereka paham. Saat ini sedang menjalani tugas mulia. Mengenyam pendidikan dan menjadi anak baik. "Kangen pasti dong," kompak mereka.

Sekolah Rakyat adalah tempat belajar bermodel asrama. Bertemu orang tua hanya bisa dilakukan di akhir pekan. Waktunya pun singkat, 3 jam saja dimulai pukul 13.00 siang dan selesai pukul 16.00 sore. Pelajar tidak boleh meninggalkan lingkungan sekolah tanpa izin. 

Setelah jam besuk selesai, pelajar harus kembali masuk ke ruang kamar masing-masing.

Ada pesan yang diingat ketiganya dari masing-masing orang tua. Walau pun berbeda kalimat tetapi maknanya satu yaitu belajar yang benar dan rajin, serta bersikaplah baik dengan teman-teman. 

"Semoga kalau sudah lulus, bisa menjadi seorang yang lebih baik lagi," harap mereka.

Sebagai informasi, Sekolah Rakyat Sentra Handayani di Jakarta Timur berisi total 75 pelajar. Terbagi atas 35 laki-laki dan 40 perempuan.

Dilatih Mandiri

sekolah rakyat di sentra handayani jakarta timur (Liputan6.com/Radityo Priyasmoro)

Kepala Sekolah Rakyat Sentra Handayani, Regut Sutrasno mengatakan, saat ini belum ada pembelajaran yang terlalu berat dan serius kepada para murid. Sebab, fokus dari sekolah rakyat di awal adalah membuat pelajar beradaptasi dan nyaman dengan sekolah model asrama.

"Kita masih fokus ke Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Mengutamakan kenyamanan dan adaptasi anak-anak terutama karena mereka tinggal di asrama dan jauh dari orang tua sehingga kegiatan di sini harus nyaman dan menyenangkan agar menghindari stres pada anak," kata Regut saat dijumpai usai Kegiatan Hari Anak Nasional di lokasi pada Kamis 24 Juli 2025.

Regut menambahkan, fokus lainnya yang harus dilakukan kepada siswa-siswi di sekolah rakyat adalah pola hidup. Mereka yang sebelumnya tidak terbiasa disiplin dengan jadwal kesehariannya mulai diwajibkan bangun subuh dan dilarang begadang. Semua sudah terpola sejak pagi hingga malam.

"Anak-anak dilatih pola hidup teratur: bangun pagi, salat subuh, kuliah tujuh menit (kultum), senam, mandi, sarapan, dan masuk kelas. Menjaga disiplin waktu masih menjadi tantangan, seperti tidak keterlambatan masuk kelas, itu setiap hari,” beber Regut.

Lalu saat akhir pekan tiba, Regut mengungkap kegiatan pelajar memang tidak terlalu padat. Selain bisa dikunjungi orang tua, mereka terlebih dulu menunaikan kewajiban untuk mencuci pakaian, menjemur hingga menggosok. Semuanya dilakukan mandiri tanpa mesin.

 "Nyuci baju anak-anak ini bareng, tidak pakai mesin tapi tangan. Terus gosok baju juga sendiri kalau sudah kering dijemur," tutur dia.

Regut yakin, saat pola kedisiplin sudah terpatri maka kehidupan pelajar di Sekolah Rakyat bisa lebih baik saat mereka sudah lulus dan kembali ke rumahnya.

Infografis 64 Sekolah Rakyat Tahap I Beroperasi Juli 2025. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya