Liputan6.com, Manado - Tak hanya diskusi publik, Jambore Jurnalistik yang digelar oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Sulut yang digelar pada, Sabtu - Minggu (19-20/7/2025), di Pantai Karangria, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, Sulut, juga diperkaya dengan beragam kegiatan seni dan aksi masyarakat. Poinnya tegas, menolak reklamasi Pantai Manado Utara!
Masyarakat pesisir, aktivis, serta pelajar tampil membacakan puisi, memainkan lagu akustik bertema laut, hingga melukis mural di dinding-dinding daseng, tempat pertemuan para nelayan tradisional. Dalam sesi penyampaian aspirasi, sejumlah warga mengungkapkan kekhawatiran dan pengalaman mereka menghadapi dampak reklamasi.
Advertisement
"Pemerintah selama bertahun-tahun, mengabaikan suara masyarakat. Reklamasi ini dibuat tanpa ada partisipasi masyarakat. Dan sampai sekarang pun kami belum pernah melihat kajian AMDAL nya seperti apa," ujar Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Tolak Reklamasi (AMPLTR), Piter Sasundame.
Piter mengatakan, pembangunan reklamasi tidak memberi jaminan bagi kesejahteraan masyarakat nelayan. "Abulepo (bohong, red) semua," sebut Piter dengan dialeg Manado.
Sebagai bagian dari penguatan pemahaman dan refleksi bersama, Jambore juga menggelar nonton bareng film dokumenter “Watchdog: Memunggungi Laut”. Film ini menggambarkan bagaimana proyek-proyek reklamasi di berbagai daerah Indonesia telah berdampak buruk terhadap masyarakat pesisir dan lingkungan. Suasana sunyi dan haru menyelimuti sesi pemutaran film.
Banyak peserta yang terdiam setelah menyaksikan kisah-kisah nyata di balik janji-janji pembangunan yang justru menyingkirkan warga dari tanah dan laut mereka sendiri. “Film ini seperti cermin bagi kami. Yang kami alami di Manado, ternyata juga terjadi di banyak tempat lain,” kata sejumlah anggota Orang Indonesia (Oi) yang ikut ambil bagian dalam kegiatan Jambore.
Usai nonton bareng, dilanjutkan dengan panggung inspirasi yang menampilkan kelompok aqustik dari sejumlah anggota Oi Kontras, dengan nama Kontra-S, diselingi baca puisi oleh Shasa Petahiang. Namun semangat dan pesan yang dibawa Kontra-S sangat kuat: musik sebagai alat perjuangan dan kemanusiaan. Inilah Kontra-S, band muda yang lahir dari ruang-ruang tongkrongan dan semangat kolektif.
Kontra-S dibentuk oleh lima anak muda dengan latar belakang yang beragam, yakni Indira Maharani Aror (Vokal), Renaldo Kumendong (Gitaris 1), Odhy (Gitaris 2), Marfel Pantolaeng (Bass) dan Mustofa Hasan) (Drum/Kajon). Nama Kontra-S memiliki makna filosofis: Kontra berarti berbeda, dan S adalah singkatan dari kata Semu. Artinya, mereka adalah individu-individu yang sebelumnya berbeda dan tidak mengenal satu sama lain, namun dipertemukan oleh musik dan visi yang sama.
“Penutupan rangkaian kegiatan Jambore Jurnalistik 2025, dilakukan dengan penyusunan dan tanda tangan petisi menolak reklamasi di Pantai Manado, yang diikut komunitas jurnalis, seniman, tokoh agama dan masyarakat lokal,” ungkap Koordinator SIEJ Simpul Sulut Findamorina Muhtar didampingi Ketua Panitia Agustinus Hari.
Diketahui, Pantai Karangria merupakan satu-satunya pantai yang dimiliki Kota Manado yang masih selamat dari ancaman proyek reklamasi. Ratusan nelayan menggantungkan hidup mereka di sana, namun bayang-bayang reklamasi terus menghantui setelah keluarnya sejumlah izin untuk menimbun kawasan pantai itu.