Muslimverse dan Nasaruddin Umar Office Teken MoU Dukung Syiar Islam

Kesepakatan ini bertujuan memperkuat syiar Islam melalui pendekatan digital yang inklusif dan edukatif.

oleh Liputan6.comDiperbarui 21 Juli 2025, 14:52 WIB
Muslimverse dan Nasaruddin Umar Office (NUO) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mendukung pengembangan konten keislaman berbasis teknologi.

Liputan6.com, Jakarta - Muslimverse dan Nasaruddin Umar Office (NUO) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mendukung pengembangan konten keislaman berbasis teknologi, Minggu (20/7/2025).

Penandatanganan dilakukan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, oleh Pendiri Muslimverse Sandiaga Salahuddin Uno dan Pendiri NUO sekaligus Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.

Kesepakatan ini bertujuan memperkuat syiar Islam melalui pendekatan digital yang inklusif dan edukatif. Dalam sambutannya, Sandiaga menyebut tantangan saat ini adalah bagaimana membuat umat Islam, khususnya generasi muda, tetap terlibat aktif saat menjalankan ibadah, termasuk ketika mengikuti khutbah Jumat.

"Sekarang ada kuis untuk menguji pengetahuan kita dalam khutbah Jumat. Data terakhir menunjukkan 46 persen Gen Z lebih memilih membaca Al-Qur'an melalui aplikasi digital. Muslimverse ini banyak membantu kita belajar tentang Islam," ujar Sandiaga.

Ia juga membagikan pengalamannya menggunakan fitur-fitur dalam aplikasi Muslimverse, termasuk penunjuk arah kiblat. Menurutnya, akurasi aplikasi tersebut telah terbukti di berbagai negara yang dikunjunginya.

"Saya coba keliling dunia pakai Muslimverse. Di Prancis, Ordos di Inner Mongolia, sampai Chengdu, semuanya akurat. Saya sekarang 100 persen pakai Muslimverse, saya take down aplikasi sebelah," katanya.

Sementara itu, Prof Nasaruddin Umar menyambut baik kolaborasi ini. Ia menilai percepatan teknologi digital harus dimanfaatkan umat Islam untuk memperkuat ibadah dan dakwah. Menurutnya, umat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus berperan sebagai pencipta.

"Kita juga harus jadi produsen IT, maka kita harus jadi imam dalam pemanfaatan teknologi. Kalau teknologi tanpa imam, itu makmumnya akan rusak," tegas Menteri Agama itu.

 

Cerita Pengalaman Dakwah di New York

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengungkapkan pengalamannya saat diundang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.

PBB meminta bantuannya dalam pengembangan masjid di kawasan Amerika Latin yang menjadi tujuan migrasi komunitas Muslim.

"Mereka mau masuk AS susah dan mereka terdampar di Amerika Latin. Jangan sampai masjid itu jadi tempat radikal. Apa yang harus dilakukan agar seperti Istiqlal. Jadi, Istiqlal sudah menjadi standar internasional," kata Nasaruddin.

Acara penandatanganan MoU ini juga dihadiri Wakil Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari dan sejumlah tokoh keagamaan serta penggiat teknologi Islam.

Infografis Perbedaan Rukun dan Wajib Haji dengan Rukun Umrah. (Liputan6.com/Abdillah)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya