Liputan6.com, Aceh - Di tengah kekhawatiran terhadap semakin langkanya penggunaan Bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari, sebuah inisiatif muncul dari Desa Tutong, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan.
Lewat tangan Saed Munawir, perpustakaan desa disulap menjadi Rumoh Belajar Aceh Meugah, sebuah ruang belajar kreatif untuk menyelamatkan Bahasa Aceh dari ancaman kepunahan.
Advertisement
Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2024 menyebutkan bahwa Bahasa Aceh termasuk dalam kategori bahasa daerah yang terancam punah.
Fenomena ini kian nyata terlihat ketika banyak keluarga di Aceh kini lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama di rumah. Salah satu penyebab utamanya adalah kebiasaan orang tua yang tidak lagi mengajarkan Bahasa Aceh kepada anak-anak mereka.
Melihat kondisi tersebut, Saed pun bergerak. Melalui program Rumoh Belajar yang ia gagas, sebanyak 20 anak di Desa Tutong terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian bahasa.
Mulai dari kelas Bahasa Aceh, permainan tradisional berbasis bahasa daerah, kelas menulis dalam Bahasa Aceh, hingga festival budaya dan sastra Aceh. Bahkan, karya anak-anak dalam Bahasa Aceh direncanakan akan dibukukan dan diterbitkan.
“Harapannya, perpustakaan ini bisa membangun suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan bermakna, sekaligus memperkuat keterikatan generasi muda dengan warisan budaya mereka melalui Bahasa Aceh,” ujar Saed.
Inisiatif ini tidak hanya menumbuhkan kesadaran berbahasa di kalangan anak-anak, tetapi juga menjadi benih lahirnya komunitas pelestari Bahasa Aceh dari tingkat desa.
Ke depan, upaya ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah penutur muda dan mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga bahasa ibu sebagai bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya lokal.
A.Baizalwi