Jadi Negara dengan Tarif Impor ke AS Terendah di Asia, Ini Keuntungan RI

Pasar AS mencatat surplus perdagangan lebih dari USD 15 miliar, menjadikannya lahan subur bagi eksportir Indonesia di tengah perang tarif impor.

oleh Ilyas Istianur PradityaDiterbitkan 18 Juli 2025, 11:00 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/5). Kenaikan impor dari 14,46 miliar dolar AS pada Maret 2018 menjadi 16,09 miliar dolar AS (month-to-month). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Labuan Bajo Indonesia tercatat sebagai negara dengan tarif impor paling rendah di Asia ke Amerika Serikat (AS), mengungguli negara-negara emerging market lainnya.

Hal ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke pasar AS yang sangat potensial.

“Tarif impor kita ke AS lebih rendah dibanding negara Asia lainnya, bahkan emerging market. Ini bisa jadi momentum untuk kita menjadi pemasok baru bagi AS,” ujar Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual dalam Editor Briefing Bank Indonesia, Labuan Bajo, Jumat (18/7/2025).

Peluang Ekspor Lebih Besar ke Pasar AS

Pasar AS mencatat surplus perdagangan lebih dari USD 15 miliar, menjadikannya lahan subur bagi eksportir Indonesia.

David menekankan, dengan tarif yang rendah, Indonesia memiliki peluang untuk mengisi kekosongan suplai akibat bergesernya mitra dagang utama AS.

“AS sedang mencari supplier baru. Ini kesempatan kita untuk perluas ekspor ke sana,” jelas David.

Menurutnya, selisih tarif 2–3 persen saja bisa memberikan perbedaan besar bagi pelaku usaha Indonesia agar lebih kompetitif.

 

Diplomasi Dagang dan Peran Pemerintah

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (16/6/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2021 kembali surplus sebesar USD 2,36 miliar dan menjadi tertinggi sepanjang tahun 2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Upaya pemerintah Indonesia untuk menjaga dan bahkan menurunkan tarif impor ke AS juga diapresiasi.

Tarif di bawah 20 persen dianggap sudah sangat baik, dan target penurunan hingga 19 persen terus diupayakan, termasuk melalui jalur diplomasi ekonomi.

“Upaya lobi dari pengusaha maupun pemerintah, termasuk kemungkinan kontak langsung Presiden terpilih Prabowo Subianto dengan Donald Trump, menunjukkan keseriusan menjaga posisi Indonesia,” kata David.

Ia juga menambahkan bahwa kekhawatiran akan adanya tambahan tarif karena status Indonesia sebagai anggota BRICS belum tampak relevan saat ini.

 

Diversifikasi Pasar Lewat UE-CEPA

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (17/2/2022). Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2022 menurun dibandingkan surplus pada Desember 2021 sebesar USD 1,02 miliar. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Selain pasar AS, Indonesia juga mengincar pasar Eropa melalui perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Uni Eropa (UE-CEPA). Hal ini memungkinkan Indonesia untuk memiliki “dua kaki” dalam ekspor: AS dan Eropa.

“Selama ini produk kita sulit masuk ke Eropa. UE-CEPA membuka jalan baru,” ujar David. Ia menambahkan, pemerintah juga mendorong investasi dari AS ke Indonesia dengan memberikan insentif, termasuk kemudahan perizinan, agar perusahaan AS mau berproduksi di Indonesia dan menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya