Thailand Tunda Pemberlakuan Pajak Wisata hingga 2026 Imbas Penurunan Kedatangan Wisman

Thailand menunda penerapan pajak wisata bagi wisatawan asing hingga 2026 sambil menunggu pemulihan sektor pariwisata yang vital bagi perekonomian negara.

oleh Dyah Ayu PamelaDiterbitkan 17 Juli 2025, 07:00 WIB
Foto dari udara menunjukkan patung Buddha Raksasa di Phuket, Thailand, 14 September 2020. Phuket, pulau terbesar di Thailand, terletak di pantai barat negara tersebut di Laut Andaman. (Xinhua/Zhang Keren)

Liputan6.com, Jakarta - Thailand, negara yang dikenal dengan keindahan alamnya dan kekayaan budayanya, memutuskan menunda penerapan pajak wisata (levy) bagi wisatawan asing hingga pertengahan 2026. Keputusan ini diambil di tengah penurunan jumlah kedatangan turis dan tantangan ekonomi yang dihadapi negara tersebut.

Mengutip dari Euronews, Kamis (16/7/2025), biaya kha yeap pan din atau melangkah ke tanah Thailand sebesar 300 baht (setara Rp150 ribuan) awalnya direncanakan akan diberlakukan pada 2025. Namun, Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand baru-baru ini mengumumkan penundaan ini.

Tujuannya tak lain untuk memberikan waktu bagi sektor pariwisata untuk pulih dari dampak ekonomi global yang tidak menentu. Biaya ini dirancang untuk mendukung proyek-proyek yang meningkatkan infrastruktur pariwisata dan memberikan asuransi perjalanan bagi wisatawan.

Biaya itu akan dikenakan pada semua pengunjung asing yang datang melalui udara, dengan tarif yang lebih rendah sebesar 150 baht (sekitar Rp75 ribu) akan diterapkan untuk wisatawan yang tiba melalui jalur darat atau laut. 

Penundaan hingga Pariwisata Pulih

Kapal wisata sedang melintasi Chao Phraya di Bangkok, Thailand, Kamis (30/11/2023) petang. Bola.com berkesempatan mengunjungi Bangkok sebelum meliput seri terakhir Asia Road Racing Championship 2023 akhir pekan ini di Buriram. (Bola.com/Hery Kurniawan)

Asisten Menteri Pariwisata, Chakrapol Tangsutthitham, mengonfirmasi bahwa penundaan ini akan berlangsung hingga angka kunjungan wisata ke Thailand kembali pulih. Langkah ini mencerminkan keprihatinan pemerintah terhadap ekonomi yang stagnan dan jumlah wisatawan yang belum mencapai target.

Pada pertengahan tahun ini, jumlah kedatangan wisatawan ke Thailand mencapai sekitar 17 juta, menurun 5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran di sektor pariwisata, yang menyumbang sekitar 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut.

Para analis mengaitkan penurunan ini dengan tekanan ekonomi di pasar utama seperti Tiongkok, yang mungkin memengaruhi permintaan perjalanan. Selain itu, penguatan baht dan kenaikan biaya tiket pesawat menjadikan Thailand tujuan wisata yang lebih mahal dibandingkan sebelumnya.

Kondisi ini diperparah dengan potensi pengenaan tarif oleh Amerika Serikat terhadap Thailand, yang dapat memberikan dampak domino terhadap perekonomian dan mengurangi pengeluaran untuk perjalanan internasional. 

Komitmen Thailand Meningkatkan Pariwisatanya

Pemandangan tepi pantai di salah satu resor di Koh Samui, Thailand. (dok. Instagram @fourseasons/https://www.instagram.com/p/DG_cA6oOGIe/?hl=en&img_index=1/Dinny Mutiah)

Meskipun menghadapi tantangan ini, Thailand tetap berkomitmen untuk meningkatkan sistem pariwisatanya. Negara ini telah meluncurkan sistem entri digital baru yang menggantikan dokumen yang rumit dengan proses daring yang lebih efisien untuk pendaftaran pra-kedatangan. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan pengumpulan data dan menyempurnakan pemrosesan di bandara dan perbatasan.

Thailand, dengan keunggulan alam dan budayanya, tetap menjadi salah satu destinasi wisata paling abadi di dunia. Dari pegunungan hijau di Chiang Mai hingga pantai berpasir putih di pulau-pulau seperti Koh Samui dan Phuket, negara ini menarik hampir 40 juta wisatawan setiap tahunnya.

Bangkok, ibu kota Thailand, terus memikat wisatawan dengan kehidupan malamnya yang legendaris dan perpaduan antara jajanan kaki lima dan restoran berbintang Michelin. Selain itu, wisata kebugaran juga berkembang pesat di seluruh negeri, dengan resor ramah lingkungan, retret yoga, dan spa modern yang semakin populer. 

 

Optimisme Thailand

Staf terlihat di jalur masuk baru di Bandara Internasional Suvarnabhumi saat berlatih prosedur untuk pembukaan kembali Thailand, di Bangkok, Rabu (27/10/2021). Mulai 1 November, Thailand akan mulai dibuka kembali tanpa persyaratan karantina untuk yang divaksinasi penuh. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Meskipun penerapan biaya masuk ditunda, Thailand bertaruh bahwa daya tarik budayanya yang kuat akan terus menarik wisatawan untuk kembali. Peran utama Thailand dalam film terkenal seperti The White Lotus semakin menambah daya tarik negara ini di mata dunia.

Dengan keputusan untuk menunda biaya masuk, Thailand berharap dapat memberikan ruang bagi sektor pariwisata untuk pulih dan berkembang, memastikan bahwa negara ini tetap menjadi tujuan favorit bagi wisatawan dari seluruh dunia. 

Sebelumnya, The Thaiger memberitakan minat wisatawan Tiongkok berlibur ke Thailand menurun drastis. Pada paruh pertama 2025, jumlah turis Tiongkok turun 34 persen dibandingkan tahun lalu dengan hanya tercatat 2.265.556 wisatawan.

Posisi jumlah kunjungan wisatawan China ke Thailand pun tersalip oleh Malaysia yang mencatat kunjungan 2.299.897 orang pada periode yang sama. Angka itu juga mengalami penurunan meski lebih kecil, yakni 5,58 persen. Secara keseluruhan, Thailand menerima kunjungan 16.685.466 wisatawan asing dalam enam bulan pertamapada 2025, menandai penurunan sebesar 4,66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Infografis wisata, lima Kapal-kapal Pesiar Terkenal di Dunia. (Dok: Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya