CPNS Disabilitas Nilai Kemenag Sudah Ramah dan Inklusif, Sejalan dengan Semangat Moderasi Beragama

Semangat penguatan moderasi beragama yang inklusif di Kemenag terlihat dari pemenuhan hak bagi penyandang disabilitas.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 18 Juli 2025, 07:00 WIB
Rahmat (tengah) CPNS Penyandang Disabilitas yang menilai Moderasi Beragama di Kemenag Sejalan dengan Nilai Inklusi. Foto: Kemenag.

Liputan6.com, Jakarta Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) penyandang disabilitas di Kementerian Agama (Kemenag) 2024, Rahmat, menilai bahwa moderasi beragama di Kemenag sejalan dengan nilai inklusif.

Pria yang mengambil formasi analis kebijakan di Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag, mengatakan bahwa semangat penguatan moderasi beragama yang inklusif terlihat dari pemenuhan hak bagi penyandang disabilitas.

"Menurut saya, Kemenag sangat mengakomodir teman-teman disabilitas. Terbukti dengan penerimaan CPNS jalur disabilitas. Seluruh proses yang saya lalui saya merasa diperhatikan dengan baik," ujar Rahmat, usai menonton film moderasi beragama di Perpustakaan BMBPSDM Kemenag, Jakarta, Senin (14/7/2025).

Moderasi beragama adalah cara pandang dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem.

Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini.

“Moderasi beragama yang menekankan toleransi dan penerimaan terhadap perbedaan, berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang inklusif bagi kelompok disabilitas,” ucap Rahmat mengutip laman Kemenag, Rabu (16/7/2025). 

“Di Kementerian Agama saya merasa mendapatkan prioritas dan perhatian, termasuk saat bekerja di BMBPSDM, apalagi latar belakang kita moderasi beragama. Saya sangat tersanjung di Kemenag yang memperlakukan kami sebagai manusia, bukan sekadar benda,” imbuhnya.

 

Moderasi Beragama Lewat Film

Lebih lanjut, Rahmat menilai film-film bertema moderasi beragama seperti Liang dan Menyapa Terang di Ujung Malam perlu lebih dikenal masyarakat sebagai upaya memperkuat persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Ia menyebut pendekatan edukatif melalui film menjadi cara yang segar dan efektif untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya moderasi beragama di tengah masyarakat.

“Sangat menginspirasi, banyak hal yang relevan dengan masyarakat kita. Pendekatan melalui film sangat segar dan mendidik serta berkaitan dengan kehidupan kita,” ungkapnya.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya