Ketika Ratusan Siswa di Rempoa Belajar Mengolah Sampah

Melalui kegiatan edukasi ini, para pelajar mengaku baru paham bahwa sampah tidak boleh dicampur apalagi dibakar.

oleh Pramita TristiawatiDiperbarui 17 Juli 2025, 00:54 WIB
Pelajar Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam belajar mengolah sampah.

Liputan6.com, Jakarta - Komunitas Guna Ulang Aja (GUA) kembali menggelar edukasi pengelolaan sampah, kali ini diikuti sekitar 350 pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam, Rempoa, Tangerang Selatan, Banten.

Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Persakas, Selasa pagi (15/7/2025), mengajarkan pentingnya memilah sampah, mengurangi sampah, serta menghindari kebiasaan membakar sampah.

Suasana lapangan tampak semarak saat para pelajar yang juga anggota Pramuka itu berkumpul membentuk lingkaran. Mereka belajar mengenai konsep 3R: reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (daur ulang).

Koordinator Komunitas GUA, Ardianto Wibowo, mengajak para siswa berdiskusi tentang kebiasaan mereka mengelola sampah sehari-hari. Seorang pelajar menjawab jujur, “Dibakar.”

Mendengar itu, Bowo langsung memberi penjelasan.

“Sampah yang dibakar menghasilkan dioksin, zat berbahaya yang bisa menyebabkan berbagai penyakit,” kata Bowo. Saat ditanya apakah mereka masih mau membakar sampah setelah tahu bahayanya, serentak para pelajar berteriak, “Tidak!”

Tak hanya itu, anak-anak juga belajar mengenali jenis-jenis sampah, mulai dari organik seperti sisa makanan dan daun, hingga anorganik seperti plastik, kertas, kardus, kaleng, botol beling, serta sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) seperti baterai, kabel, hingga obat nyamuk semprot.

“Setelah tahu sampah bisa bikin penyakit, mulai sekarang saya mau memilah sampah,” ujar salah satu pelajar.

Menariknya, menurut Bowo, sebagian besar pelajar MI Nurul Islam sebenarnya sudah menerapkan gaya hidup reuse. Sekitar 97 persen di antara mereka terbiasa membawa tumbler ke sekolah.

“Setiap hari saya bawa tumbler buat minum,” ujar Elmira, salah satu siswa.

Kegiatan edukasi semakin meriah saat para pelajar diajak mengikuti games memilah sampah. Mereka dibagi dalam kelompok dan berlomba memisahkan jenis sampah dengan benar. Dua kelompok terbaik mendapat hadiah totebag dan kotak makan.

Kegiatan ditutup dengan aksi bersih-bersih Lapangan Persakas yang sempat terlihat kotor. Dalam waktu sekitar lima menit, seluruh pelajar ikut serta memunguti sampah hingga lapangan tampak bersih kembali.

Kepala MI Nurul Islam, Nur Amalia, mengapresiasi kegiatan tersebut.

“Anak-anak jadi belajar langsung bagaimana memperlakukan sampah. Harapannya, mereka tumbuh jadi generasi yang peduli lingkungan,” kata Amalia.

Ia menambahkan, pihak sekolah berencana mendirikan bank sampah sebagai tindak lanjut edukasi ini. “Supaya anak-anak bisa belajar langsung bagaimana memilah dan mengelola sampah dengan benar,” ujarnya.  Ask ChatGPT 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya