Mulai Lesu Buntut Tarif AS, Ekonomi Tiongkok Tumbuh 5,2% di Kuartal II 2025

Pada Juni 2025, Tiongkok melihat perlambatan pada pertumbuhan penjualan ritel menjadi 4,8% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan peningkatan 6,4% year-on-year pada Mei 2025.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 15 Juli 2025, 12:00 WIB
uah bus wisata terlihat di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan (22/10/2020). Shenzhen pada Kamis (22/10) meluncurkan tiga jalur bus wisata bagi wisatawan, yang masing-masing menampilkan budaya, teknologi, dan pemandangan malam kota tersebut. (Xinhua/Mao Siqian)

Liputan6.com, Jakarta - Perekonomian Tiongkok tumbuh lebih lambat pada kuartal II 2025. Salah satu penyebab perlambatan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menaikkan tarif impor barang Tiongkok.

Melansir CNBC International, Selasa (15/7/2025), kinerja ekonomi Tiongkok, meski melemah, tetap tumbuh melampaui ekspektasi di tengah ketegangan tarif dagang dengan AS.

Produk domestik bruto Tiongkok tumbuh sebesar 5,2% pada kuartal kedua 2025, menurut data yang dirilis Biro Statistik Nasional negara itu.

Angka tersebut sedikit melampaui perkiraan ekonom yang disurvei dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 5,1%, namun melambat dari 5,4% yang tercatat pada kuartal pertama 2025.

Pada Juni 2025, Tiongkok melihat perlambatan pada pertumbuhan penjualan ritel menjadi 4,8% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan peningkatan 6,4% year-on-year pada Mei 2025.

Dalam tolak ukur utama konsumsi, penjualan katering di Tiongkok hanya naik tipis sebesar 0,9%, menandai kinerja terburuknya sejak Desember 2022 ketika negara tersebut bergulat dengan dampak pandemi Covid-19, menurut Wind Information.

Sementara itu, output industri Tiongkok tumbuh sebesar 6,8% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan estimasi median sebesar 5,7%.

Adapun investasi aset tetap tumbuh 2,8% pada paruh pertama tahun ini.

Penurunan investasi properti di Tiongkok semakin mendalam, mencapai 11,2% pada paruh pertama tahun ini, dibandingkan dengan penurunan 10,7% dalam lima bulan pertama. Investasi di sektor infrastruktur dan manufaktur juga melambat.

 

Pengaruh Guncangan Eksternal

Warga yang memakai masker melintasi persimpangan di Beijing, China, Jumat (2/12/2022). Lebih banyak kota melonggarkan pembatasan, memungkinkan pusat perbelanjaan, supermarket, dan bisnis lainnya dibuka kembali menyusul protes akhir pekan lalu di Shanghai dan daerah lain di mana beberapa orang menyerukan Presiden Xi Jinping untuk mengundurkan diri. (AP Photo/Ng Han Guan)

Pada April 2025, Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor Tiongkok ke tingkat yang sangat tinggi, yaitu 145%. Hal ini memicu serangkaian langkah stimulus dari Beijing, termasuk dukungan finansial bagi eksportir yang kesulitan menerima pesanan, subsidi bagi perusahaan yang merekrut lulusan baru, dan perluasan berkelanjutan program tukar tambah barang konsumsi untuk mendorong permintaan.

"Kita perlu menyadari bahwa terdapat banyak faktor yang tidak stabil dan tidak pasti dalam lingkungan eksternal," demikian keterangan Biro Statistik Nasional Tiongkok.

Badan tersebut juga mencatat bahwa permintaan domestik Tiongkok belum cukup untuk mendongkrak ekonomi.

 

Tenggat Waktu hingga 12 Agustus

Salah satu basis produksi BYD atau Build Your Dream di kota Jinan, Provinsi Shandong, China. (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Tiongkok dan AS telah mencapai kesepakatan akhir terkait tarif dagang baru pada bulan Mei, sepakat untuk mencabut sebagian besar tarif mereka satu sama lain.

Negosiator perdagangan masing-masing kemudian menguraikan sebuah kerangka kerja setelah pertemuan di London pada Juni 2025, yang melibatkan percepatan persetujuan ekspor mineral tanah jarang oleh Tiongkok dan pencabutan pembatasan akses Beijing terhadap teknologi canggih Amerika, serta visa pelajar Tiongkok untuk belajar di AS oleh Washington.

Beijing kini menghadapi tenggat waktu hingga 12 Agustus untuk mencapai kesepakatan dagang permanen dengan Washington.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya