Keluar dari Exceptional Treatment, BREN Paling Berpeluang Masuk Indeks MSCI

Tiga saham milik Prajogo Pangestu—BREN, PTRO, dan CUAN—resmi keluar dari daftar exceptional treatment MSCI. Hal ini membuka peluang besar bagi BREN untuk masuk indeks global.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 14 Juli 2025, 16:45 WIB
Pekerja duduk di depan layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Tiga saham milik taipan Prajogo Pangestu, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), resmi tidak lagi mendapatkan exceptional treatment dalam peninjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk periode Agustus 2025.

Keputusan ini dinilai membuka peluang bagi ketiganya, khususnya BREN, untuk masuk ke dalam konstituen indeks global tersebut.

Vice President Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai BREN menjadi kandidat paling kuat dibandingkan dua saham lainnya.

“Kami berpandangan dengan tidak diberlakukannya exceptional treatment dalam peninjauan indeks MSCI periode Agustus 2025 membuka peluang besar untuk BREN masuk menjadi konstituen, dibandingkan PTRO dan CUAN,” jelas Oktavianus, kepada Liputan6.com, Senin (14/7/2025).

Ia mengungkapkan ada tiga faktor utama yang memperkuat potensi BREN masuk indeks MSCI:

  1. Free-float threshold terpenuhi sebesar 11,6%, atau setara USD 5,86 miliar (telah melampaui ambang batas MSCI sebesar USD 3 miliar);
  2. Rata-rata nilai transaksi harian (3M ADTV) sekitar Rp282 miliar, menunjukkan likuiditas yang solid;
  3. Tidak lagi masuk dalam daftar pengecualian kebijakan MSCI.

Meski begitu, Oktavianus mengingatkan bahwa aturan mengenai free float versi MSCI bisa berbeda dengan yang diterapkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ada kemungkinan sebagian saham publik dianggap tidak bebas diperdagangkan, sehingga potensi masuknya ke dalam indeks tetap memiliki risiko.

 

CUAN dan PTRO

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk saham CUAN, menurutnya masih memiliki peluang, terutama dengan rencana stock split 1:10 yang dijadwalkan pada 15 Juli 2025. Langkah ini diyakini bisa meningkatkan likuiditas faktor penting dalam kriteria MSCI.

“Meskipun free float CUAN sebesar 15%, nilainya masih berada di bawah syarat minimum MSCI, yakni sebesar USD 1,5 miliar versus syarat USD 3 miliar. Namun aksi stock split berpotensi mendorong nilai free float CUAN ke depannya, terlebih sebelum rebalancing Agustus 2025,” ujarnya.

Sementara itu, PTRO dinilai memiliki peluang paling kecil untuk masuk dalam rebalancing Agustus 2025. Pasalnya, nilai free float-nya masih tergolong kecil, yakni hanya sekitar USD 0,5 miliar.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya