Liputan6.com, Islamabad - Ambisi Pakistan untuk memperluas ekspor industri pertahanannya ke Afrika dilaporkan mengalami hambatan setelah Arab Saudi menarik dukungan pendanaan untuk rencana penjualan senjata senilai USD 1,5 miliar kepada Sudan. Keputusan tersebut dinilai menjadi pukulan bagi upaya Islamabad memperkuat pengaruh geopolitik dan memperluas pasar industri militernya di benua Afrika.
Laporan tersebut menyebutkan Arab Saudi tidak hanya menghentikan pendanaan, tetapi juga mendesak Pakistan agar membatalkan rencana transaksi tersebut sepenuhnya. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Pakistan maupun Arab Saudi mengenai kabar tersebut.
Advertisement
Paket kerja sama pertahanan yang direncanakan mencakup penjualan pesawat serang ringan K-8 Karakorum, ratusan pesawat nirawak (drone), kendaraan lapis baja, hingga sistem pertahanan udara buatan China yang dipasarkan melalui Pakistan.
Apabila terealisasi, kesepakatan tersebut diperkirakan menjadi salah satu kontrak ekspor senjata terbesar dalam sejarah Pakistan sekaligus membuka akses Islamabad ke pasar pertahanan Afrika, dikutip dari laman The Diplomat, Selasa (23/6/2026).
Selama beberapa tahun terakhir, Pakistan berupaya mengembangkan industri pertahanannya sebagai salah satu sumber devisa baru di tengah tekanan ekonomi domestik. Pemerintah juga berusaha memperluas pasar ekspor di luar kawasan Timur Tengah dan Asia, termasuk ke sejumlah negara di Afrika.
Sudan dipandang sebagai pintu masuk strategis bagi Pakistan untuk memperkuat posisinya di pasar pertahanan Afrika. Keberhasilan transaksi itu diyakini dapat membuka peluang kerja sama serupa dengan negara-negara lain di kawasan, seperti Nigeria, Ethiopia, hingga negara-negara di Tanduk Afrika dan kawasan Sahel.
Dimensi Geopolitik
Selain nilai ekonomi, kerja sama tersebut juga dinilai memiliki dimensi geopolitik. Laporan itu menyebut paket persenjataan tersebut memperlihatkan semakin eratnya kerja sama Pakistan dengan China dan Turki dalam memperluas pengaruh di kawasan Laut Merah dan Afrika Timur.
Sistem pertahanan udara seri HQ yang masuk dalam paket tersebut merupakan produk buatan China, sementara dukungan Pakistan kepada Angkatan Bersenjata Sudan dinilai sejalan dengan kepentingan strategis Turki yang dalam beberapa tahun terakhir memperluas pengaruh politik dan keamanannya di Afrika.
Namun, perubahan kebijakan Arab Saudi disebut menjadi faktor utama yang menggagalkan rencana tersebut. Riyadh kini dilaporkan lebih memilih pendekatan deeskalasi dan mengurangi keterlibatan dalam konflik-konflik eksternal, termasuk perang saudara di Sudan.
Keputusan itu juga disebut dipengaruhi kekhawatiran bahwa peningkatan pasokan senjata ke Sudan berpotensi memperburuk konflik yang telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Pembatalan Pendanaan
Laporan tersebut juga menyebut pembatalan pendanaan untuk Sudan dapat berdampak pada rencana kerja sama pertahanan Pakistan lainnya di Libya yang nilainya diperkirakan mencapai USD 4 miliar.
Jika transaksi tersebut juga batal, ambisi Islamabad menjadi salah satu pemasok utama industri pertahanan di Afrika diperkirakan akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
Analis menilai perkembangan ini menunjukkan bahwa upaya Pakistan memperluas pengaruh geopolitiknya masih sangat bergantung pada dukungan finansial negara-negara mitra, khususnya di kawasan Teluk. Ketergantungan tersebut dinilai menjadi kendala utama bagi Islamabad dalam mewujudkan ambisi jangka panjangnya sebagai pemain utama di pasar pertahanan Afrika.