Panen Karet Lebih Akurat, Petani Pagardewa Tak Lagi Bergantung Tengkulak

Petani karet di Desa Pagardewa kini memanfaatkan teknologi digital untuk mencatat hasil panen secara langsung lewat aplikasi.

oleh Liputan6.comDiperbarui 12 Juli 2025, 22:06 WIB
Pohon Karet (Foto dibuat oleh Grok/X)

Liputan6.com, Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Kali ini, PGN menggandeng startup agribisnis digital Taniyuk untuk memperkenalkan sistem pencatatan panen berbasis digital kepada para petani karet di Desa Pagardewa, Kecamatan Lubai Ulu, Kabupaten Muara Enim.

Melalui kerja sama dengan Koperasi Padetra Artomulyo, PGN menghadirkan aplikasi TaniyukApp yang memungkinkan para petani mencatat hasil panen lateks cair langsung melalui ponsel.

Data panen tersebut kemudian direkam secara kolektif melalui perangkat milik bendahara koperasi, sehingga seluruh proses menjadi lebih teratur dan transparan.

“TaniyukApp memungkinkan petani mencatat hasil panen lateks cair langsung dari ponsel mereka. Pencatatan hasil panen lateks dikolektifkan pada satu gawai yaitu milik bendahara koperasi Padetra Artomulyo,” jelas Sekretaris Perusahaan PGN, Fajriyah Usman, dalam keterangannya, Sabtu (12/7/2025).

 

Potong Rantai Tengkulak

Setelah penimbangan, data hasil panen disalurkan ke industri pembeli (off-taker) melalui aplikasi. Petani pun akan menerima notifikasi jumlah dan nilai transaksi secara langsung, dan pembayaran bisa diterima melalui transfer bank atau mitra Laku Pandai.

Selama ini, petani karet di Pagardewa masih menjual karet beku (lump) yang harganya fluktuatif dan bergantung pada tengkulak. Tak hanya merugikan dari sisi harga, sistem penimbangan manual juga kerap tidak akurat. Melalui digitalisasi ini, PGN berharap posisi tawar petani semakin kuat.

 

Dorong Petani Naik Kelas

Sebagai langkah pemberdayaan, Koperasi Padetra Artomulyo kini bertransformasi menjadi stasiun lateks pertama di Kabupaten Muara Enim yang bekerja sama langsung dengan Taniyuk. Koperasi tak lagi hanya sebagai tempat penimbangan, tapi juga menjadi penghubung utama antara petani dan industri.

"Kami percaya, melalui peran kelembagaan seperti koperasi, petani bisa naik kelas. Bukan sekadar menjual hasil panen, tetapi membangun sistem yang adil, transparan, dan berkelanjutan," tutup Fajriyah.

jumlah petani indonesia turun sejak tiga tahun terakhir (liputan6/yasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya