PR Besar Xabi Alonso di Real Madrid, Bisa Temukan Solusi?

Tak berdayanya Los Blancos kala bertemu PSG di semifinal Piala Dunia Antarklub memperlihatkan persoalan rumit yang perlu Xabi Alonso benahi segera.

oleh Deniz AkbarDiterbitkan 13 Juli 2025, 12:00 WIB
Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso memberikan instruksi kepada para pemainnya saat laga Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat, Kamis (19/06/2025) WIB. (AFP/Sandra Montanez)

Liputan6.com, Jakarta - Real Madrid mengakhiri 2024/2025 dengan tangan hampa. Mereka gagal menjuarai Piala Dunia Antarklub 2025 usai disingkirkan Paris Saint-Germain di semifinal.

Les Parisiens tak memberi ampun kepada pasukan Los Blancos dengan mencetak empat gol tanpa balas, Kamis (10/7/2025). Tiga gol awal PSG dicetak saat laga baru berjalan 25 menit. Bahkan, dua gol pertama pasukan Luis Enrique datang dari blunder dua bek tengah El Real.

Kekalahan ini membuka lebar masalah yang terjadi pada sistem permainan Real Madrid sejak musim 2024/2025. Xabi Alonso yang baru saja ditunjuk menggantikan Carlo Ancelotti menjadi pelatih utama nampaknya perlu melihat masalah apa saja yang terjadi pada skuad Los Merengues itu.

“Saya mau kekalahan ini berdampak pada tim, tapi bukan berarti membuat kami terpuruk,” ujar pelatih berumur 43 tahun tersebut.

Tentunya, fans berharap para pemain Madrid mampu reset dan bangkit sebelum memulai musim depan pada Agustus nanti, terutama setelah Alonso memberi janji usai laga melawan PSG.

“Pada Agustus kita akan memulai musim 2025/2026 yang tentunya akan berbeda.”


Organisasi Pertahanan yang Rapuh

Ekspresi kecewa pemain Real Madrid, Antonio Rudiger (kanan), Andriy Lunin (tengah), dan Lucas Vazquez (kiri) setelah kebobolan oleh pemain Barcelona saat laga lanjutan Liga Spanyol 2024/2025 di Santiago Bernabeu, Madrid, Spanyol, Minggu (27/10/2024) WIB. (AFP/Oscar Del Pozo)

Sepanjang musim 2024/2025, Los Blancos telah dibobol total 84 kali di seluruh kompetisi, termasuk pada turnamen Piala Dunia Antarklub 2025. Angka ini menyamai rekor kebobolan terbanyak mereka dalam satu musim pada 1998/1999.

Cedera, inkonsistensi, hingga sistem yang buruk menjadi alasan utama lini belakang El Real terus dihujani serangan lawan. Mereka juga tak kunjung menemukan duet bek tengah yang meyakinkan.

“Dari sudut pandang saya, kami selalu terlambat untuk datang (menutup pergerakan). Semua pemain tidak dalam posisi yang baik dan itulah mengapa kami kalah. Kami tidak cukup dekat dengan mereka,” ungkap kiper Real Madrid, Thibaut Courtois, pasca laga menghadapi PSG. 


Sistem yang Selalu Berubah

Skuad Real Madrid saat mengalahkan Deportivo Minera pada 32 besar Copa del Rey. (X/Real Madrid)

Bergantinya tim kepelatihan dari Carlo Ancelotti ke Xabi Alonso tentunya membuat para pemain Los Merengues harus beradaptasi ulang. Hal ini tentunya tidak ideal, mengingat jarak antara akhir musim 2024/2025 dengan gelaran Piala Dunia Antarklub tidaklah panjang.

Musim lalu, Ancelotti sering menggunakan formasi 4-3-3, di mana trio lini depan akan diisi oleh Vinicius Jr, Kylian Mbappe, dan Rodrygo Goes. Akan tetapi, pada gelaran Piala Dunia Antarklub kemarin, Alonso mencoba mengaplikasikan taktik andalannya di Leverkusen, yaitu dengan memainkan tiga bek tengah.

Lanjut Baca:

Hasil melawan PSG kemarin membuktikan bahwa para pemain Madrid belum beradaptasi penuh dengan sistem baru tersebut. Meski begitu, kekalahan kemarin memberikan tambahan waktu yang dapat dimanfaatkan Alonso untuk mensukseskan teorinya sebelum bergulirnya musim 2025/2026.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya