IMF Pantau Dampak Tarif Impor Trump terhadap 21 Negara

IMF akan memberikan rincian lebih lanjut terkait dampak tarif terbaru AS setelah merilis pembaruan untuk Prospek Ekonomi Dunia bulan April pada akhir Juli 2025.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 11 Juli 2025, 17:15 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) memastikan pihaknya terus memantau dengan cermat terkait kebijakan tarif impor terbaru Amerika Serikat, terhadap belasan negara mitra dagangnya. 

Mengutip Channel News Asia, Jumat (11/7/2025) IMF mengatakan ketidakpastian mengenai prospek ekonomi global masih tinggi menyusul pengumuman tarif baru AS.

"Perkembangan terkait perdagangan terus berkembang dan ketidakpastian tetap tinggi," kata juru bicara IMF menanggapi pertanyaan dari media. 

"Negara-negara harus terus bekerja secara konstruktif untuk memfasilitasi lingkungan perdagangan yang stabil dan mengatasi tantangan bersama,” jelasnya.

IMF mengungkapkan, pihaknya akan memberikan rincian lebih lanjut terkait dampak tarif terbaru AS setelah merilis pembaruan untuk Prospek Ekonomi Dunia April pada akhir Juli mendatang. 

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif baru sebesar 50 persen untuk impor tembaga AS dan bea masuk sebesar 50 persen untuk barang-barang dari Brasil, keduanya akan dimulai pada 1 Agustus. 

Trump juga mengumumkan tarif yang lebih tinggi untuk 21 negara mitra dagang AS lainnya.

Para pejabat pemerintahan Donald Trump berpendapat bahwa tarif yang diberlakukan sejauh ini belum memicu inflasi, dan undang-undang pemotongan pajak yang disetujui minggu lalu akan lebih dari cukup untuk mengimbangi dampak negatif sementara dari bea tambahan yang dikenakan pada perdagangan.

IMF pada April 2025 telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Tiongkok, dan sebagian besar negara, karena dampak tarif AS yang kini mencapai titik tertinggi dalam 100 tahun dan memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan perdagangan akan semakin memperlambat pertumbuhan.

Aktivitas ekonomi telah meningkat sejak saat itu di tengah penimbunan barang sebelum tarif diberlakukan, dan AS dan Tiongkok telah mengurangi tarif timbal balik yang tajam, yang dapat mengindikasikan sedikit revisi kenaikan - meskipun sementara.

Rupiah Menguat 11 Juli 2025 Meski Ada Gempuran Tarif Impor AS

Petugas menghitung uang pecahan US$100 di pusat penukaran uang, Jakarta, , Rabu (12/8/2015). Reshuffle kabinet pemerintahan Jokowi-JK, nilai Rupiah terahadap Dollar AS hingga siang ini menembus Rp 13.849. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS kembali menguat menjelang akhir pekan pada Jumat, 11 Juli 2025.

Rupiah ditutup menguat 6 poin terhadap dolar  AS (USD) pada perdagangan Jumat sore (11/7/2025), yang sempat melemah 20 point di level Rp16.215 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.224. 

"Sedangkan untuk perdagangan senin depan, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.210 - Rp16.250,” ungkap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (11/7/2025).

Penguatan Rupiah terjadi ketika investor mencermati serangkaian pengumuman tarif perdagangan dari Presiden AS Donald Trump dan bersiap untuk tindakan lebih lanjut. 

Pada Kamis, 10 Juli 2025, Trump mengumumkan pengenaan tarif 35% untuk impor dari Kanada mulai 1 Agustus. Ia juga menyebutkan bahwa tarif akan naik jika Kanada membalas.

Pengamat Ingatkan Dampak Tarif Impor Baru AS ke Pasar RI

Pegawai memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 34 poin ke Rp15.616,5 per dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS 0,16 persen ke 104,41. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski Rupiah melanjutkan penguatan, Ibrahim mengingatkan bahwa pelaku pasar khawatir akan banjir impor produk elektronik dari negara-negara yang terkena tarif baru AS seperti China, Vietnam, Thailand ke pasar Indonesia.  

"Negara-negara produsen dan kompetitor Indonesia itu akan mencari pasar besar yang mudah diakses setelah Trump menerapkan tarif tinggi per 1 Agustus 2025,” Ibrahim menyebutkan.

"Oleh karena itu, pemerintah harus siap untuk membuat agar produk dari luar membanjiri pasar dalam negeri,” ia menambahkan..

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya