Liputan6.com, Jakarta - Harga tanah dan rumah di kawasan pusat DKI Jakarta kerap membuat seseorang menghela napas. Pasalnya, harga rumah bisa tembus puluhan miliaran rupiah, tergantung luas tanah dan bangunannya. Namun, rumah flat muncul menjadi salah satu solusi untuk mendapatkan hunian di jantung Kota Jakarta dengan harga yang jauh lebih murah, bahkan di bawah Rp 1 miliar.
Perhatian publik belakangan ini mengarah ke Rumah Flat Menteng. Bangunan 4 lantai yang diisi 6 keluarga itu membawa kesan 'hemat' di tengah kawasan elit DKI Jakarta. Konsep rumah flat yang dikenalkan aktivis, arsitek dan pakar tata kota, Marco Kusumawijaya ini dibangun dengan konsep koperasi.
Advertisement
Salah satu anggota Koperasi Serba Usaha Rumah Flat Menteng, Andi Pratama Hardiansyah menceritakan kisahnya. Dia yang menempati unit seluas 40 meter persegi itu mengungkap hematnya punya rumah flat.
"Dengan 4 lantai ini banyak biaya yang akhirnya kita pangkas. Mungkin lift kami enggak pakai lift, kami pakai tangga, walaupun ada lift barang ya, khusus memang buat keadaan darurat juga kayak gitu," ungkap Andi saat berbincang dengan Liputan6.com di Rumah Flat Menteng, Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Dia mengisahkan, biaya untuk memiliki rumah flat berkisar Rp 300 juta hingga Rp 1 miliar. Biaya ini dihitung secara proporsional tergantung dari luas unit yang akan dimiliki. Adapun luasan unit rumah flat mulai dari 40 m2, 60 m2, hingga 80 m2.
Penentuan harga yang harus dibayar pemilik unit dihitung sejak awal pembangunannya. Biaya konstruksi total akan dibagi ke setiap anggota penghuni yang juga bagian dalam koperasi. Kemudian, dibagi secara proporsional, disesuaikan dengan luas unit yang akan dihuni.
"Hal kayak gitu kan akhirnya juga bisa bikin solusi, oh ternyata bisa nih kayak gitu, enggak harus rumah tapak, enggak harus kita bikin gedung yang tinggi, tapi kita dengan segini aja cukup, dan itu akhirnya cukup memangkas biaya dengan kita gotong royong bareng-bareng," tuturnya.
Sewa Lahan
Andi menjelaskan, seluruh anggota koperasi yang menghuni Rumah Flat Menteng juga diwajibkan membayar biaya sewa tanah kepada pemilik lahan. Biaya sewa tanah juga disepakati oleh seluruh penghuni. Penghuni rumah bisa menyewa lahan hingga 70 tahun dengan kenaikan harga setiap 5 tahun.
"Kami sewa berjangka, dan banyak sih kemarin kayak komentar-komentar gitu di sosial media yang mereka tanya kayak, 'gimana nanti tiba-tiba penyewa tanah naikin harga ugal-ugalan gitu'. Banyak orang ketakutan di hal-hal itu kan," terangnya.
"Tapi kami sudah ada perjanjian secara hukum dengan pemilik lahan, bahwa kontraknya 70 tahun, dan itu juga, apa istilahnya, ada nanti peningkatan biaya memang, tapi itu setiap 5 tahun, nanti memang setiap 5 tahun kita akan ada musyawarah, dan harganya pun sesuai kesepakatan bersama," sambung Andi.
Kawasan Komersial di Lantai Dasar
Informasi, Rumah Flat Menteng di Jalan Rembang itu memiliki kawasan komersial di lantai paling dasarnya. Pantauan Liputan6.com, ada toko buku dan kafe Kobam. Kemudian, ada pula sebagian tempat yang dijadikan indekos.
Selain indekos di lokasi ini, ada kantor Rujak Center for Urban Studies dan Toko Buku dan Kafe Kobam. Andi menjelaskan, area komersial ini turut dikelola oleh koperasi. Keuntungannya pun akan digunakan untuk operasional koperasi.
"Jadi yang mau sewa pun juga istilahnya harus kenal dulu lah kayak gitu. Itu ada di belakangnya Kobam, yang dimana itu juga dikelola sama koperasi, yang nantinya keuntungannya juga buat operasional koperasi," jelasnya.