Liputan6.com, Beirut - Pemimpin Hizbullah Naim Qassem kembali menegaskan pada Minggu (6/7/2025) bahwa pihaknya menolak meletakkan senjata sebelum Israel menarik diri sepenuhnya dari wilayah selatan Lebanon dan menghentikan serangan udaranya. Dia menyampaikan pernyataan itu dalam sebuah pidato video, saat ribuan orang berkumpul di pinggiran selatan Beirut untuk memperingati hari suci Syiah, Asyura.
Asyura memperingati Pertempuran Karbala pada 680 Masehi, di mana cucu Nabi Muhammad, Imam Hussein, terbunuh setelah menolak memberikan baiat kepada kekhalifahan Umayyah. Bagi kaum Syiah, peringatan ini telah menjadi simbol perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan.
Advertisement
Peringatan tahun ini berlangsung setelah perang yang menghancurkan antara Israel dan Hizbullah, yang secara nominal berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) pada akhir November. Serangan-serangan Israel menewaskan sebagian besar pimpinan utama Hizbullah, termasuk Hassan Nasrallah, dan menghancurkan sebagian besar persenjataan kelompok tersebut.
Sejak gencatan senjata, Israel terus menduduki lima titik perbatasan strategis di selatan Lebanon dan melakukan serangan udara hampir setiap hari yang menurut mereka bertujuan untuk mencegah Hizbullah membangun kembali kemampuannya.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan-serangan itu telah menewaskan sekitar 250 orang sejak November, di samping lebih dari 4.000 korban jiwa selama masa perang.
"Bagaimana Anda bisa berharap kami tidak bersikap tegas sementara musuh Israel terus melakukan agresi, terus menduduki lima titik tersebut dan terus memasuki wilayah kami dan membunuh?" kata Qassem dalam pidato videonya seperti dilansir AP. "Kami tidak akan menjadi bagian dari yang melegitimasi pendudukan di Lebanon dan kawasan. Kami tidak akan menerima normalisasi (dengan Israel)."
Serangan Israel Terus Berlanjut
Menanggapi pihak-pihak yang mempertanyakan mengapa kelompok tersebut masih memerlukan persenjataan rudal, Qassem mengatakan, "Bagaimana kami bisa menghadapi Israel saat mereka menyerang kami jika kami tidak memilikinya? Siapa yang mencegah Israel masuk ke desa-desa dan mendarat lalu membunuh para pemuda, perempuan, dan anak-anak di dalam rumah mereka jika bukan karena adanya perlawanan yang memiliki kemampuan tertentu untuk melakukan pertahanan minimal?"
Pernyataannya disampaikan menjelang kunjungan yang diperkirakan akan dilakukan oleh utusan AS, Tom Barrack, ke Beirut untuk membahas rencana yang diusulkan terkait perlucutan senjata Hizbullah dan penarikan pasukan Israel dari sisa wilayah selatan Lebanon.
Barrack menulis pada Sabtu (5/7) di X bahwa Lebanon sedang menghadapi "momen bersejarah untuk melampaui warisan konflik sektarian di masa lalu dan akhirnya mewujudkan janji sejatinya sebagai harapan dari 'Satu negara, satu rakyat, satu tentara'." Dia mengutip pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan, "Mari buat Lebanon hebat kembali."
Kemudian pada Minggu, Kantor Berita Nasional Lebanon yang dikelola negara melaporkan bahwa militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah selatan dan timur Lebanon, termasuk di sekitar Baalbek dan di Provinsi Apple, sebuah daerah pegunungan yang menghadap ke sebagian besar wilayah selatan Lebanon.
Militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah menyerang beberapa lokasi militer Hizbullah, situs produksi, dan penyimpanan senjata strategis, serta sebuah lokasi peluncuran roket.