Trump: Elon Musk Sudah Tak Terkendali, Partai Barunya Konyol

Perseteruan Trump versus Elon Musk bermula dari One Big Beautiful Bill Act.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 07 Juli 2025, 12:10 WIB
Presiden Donald Trump dan CEO Tesla Elon Musk saat duduk di dalam kendaraan Tesla Model S berwarna merah di Halaman Selatan Gedung Putih, Selasa, (11/3/2025). (Dok. Pool via AP)

Liputan6.com, Washington, DC - Donald Trump menyebut keputusan Elon Musk untuk mendirikan dan membiayai partai politik baru di Amerika Serikat (AS) sebagai sesuatu yang "konyol" pada Minggu (6/7/2025).

"Partai ketiga tidak pernah berhasil, jadi dia boleh-boleh saja bersenang-senang dengan itu, tapi menurut saya itu konyol," kata presiden kepada para wartawan yang menemaninya dalam perjalanan kembali ke Gedung Putih dari klub golfnya di New Jersey seperti dilansir The Guardian.

Dia kemudian menjelaskan lebih panjang lebar di platform media sosial miliknya, Truth Social.

"Saya sedih melihat Elon Musk menjadi benar-benar 'lepas kendali', pada dasarnya berubah menjadi sebuah kehancuran total dalam lima minggu terakhir," tulis presiden. "Dia bahkan ingin memulai Partai Politik Ketiga, meskipun kenyataannya partai-partai seperti itu tidak pernah sukses di Amerika Serikat."

"Satu-satunya hal yang bagus dari Partai Ketiga adalah menciptakan GANGGUAN & KEKACAUAN yang SEMPURNA dan TOTAL," tambah Trump.

Dia kemudian mengklaim bahwa Musk terdorong karena ketidakpuasan atas rencananya untuk mengakhiri subsidi bagi pembelian kendaraan listrik.

Trump juga menuduh Musk mencoba mencari pengaruh yang tidak semestinya dengan memintanya mencalonkan temannya, Jared Isaacman, sebagai administrator NASA. Setelah Musk mundur dari posisinya sebagai pegawai pemerintah khusus dalam pemerintahan Trump, pencalonan Isaacman pun dibatalkan.

"Saya juga merasa tidak pantas jika seorang teman dekat Elon, yang berkecimpung di Bisnis Antariksa, menjalankan NASA, padahal NASA merupakan bagian besar dari kehidupan korporat Elon," sebut Trump.

One Big Beautiful Bill Act

CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, membuat gestur yang dibandingkan dengan hormat ala Nazi saat berpidato selama parade pelantikan Donald Trump di Capitol One Arena, di Washington DC, Amerika Serikat (AS), Senin (20/1/2025). (Dok. Angela Weiss/AFP)     

Kritik terhadap langkah Musk juga datang dari lingkaran dalam pemerintahan Trump. 

Menteri keuangan Trump pada Minggu menyatakan bahwa Musk seharusnya fokus menjalankan perusahaannya dan menjauh dari dunia politik. Pernyataan ini disampaikan sehari setelah orang terkaya di dunia—yang juga merupakan mantan penasihat Gedung Putih—mengumumkan pembentukan partai politik baru.

"Prinsip-prinsip DOGE cukup populer – saya kira kalau Anda lihat surveinya, Elon tidak," kata Scott Bessent dalam acara State of the Union di CNN, merujuk pada apa yang disebut sebagai 'departemen efisiensi pemerintahan' yang sempat dipimpin Musk setelah masa jabatan kedua Trump dimulai pada bulan Januari.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa DOGE dan langkah-langkah Musk dalam memangkas anggaran serta jumlah pegawai pemerintah secara brutal sangat tidak populer. Bessent juga menyebutkan bahwa para investor di perusahaan-perusahaan Musk—termasuk produsen kendaraan listrik Tesla, yang penjualannya merosot selama keberadaan DOGE—secara terbuka memohon agar masa tugasnya di pemerintahan Trump tidak berlangsung lama.

"Jadi, saya yakin dewan direksi dari berbagai perusahaannya ingin dia kembali dan menjalankan perusahaan-perusahaan itu," tutur Bessent. "Saya membayangkan bahwa dewan-dewan direksi itu tidak menyukai pengumuman kemarin dan akan mendorongnya untuk fokus pada kegiatan bisnis, bukan kegiatan politik."

Pernyataan Bessent muncul setelah Musk menepati janjinya untuk membentuk partai baru dan menuduh Trump, mantan sekutunya, telah membuat negara bangkrut dengan menandatangani rancangan undang-undang (RUU) pajak dan pengeluaran besar-besaran. Trump menjuluki RUU yang telah disahkannya "One Big Beautiful Bill Act".

Miliarder teknologi itu mengumumkan pembentukan America Party dalam serangkaian unggahan yang dipublikasikan mulai Sabtu (5/7) larut malam hingga Minggu pagi di X, platform media sosial miliknya.

"Kalau soal membuat negara kita bangkrut dengan pemborosan & korupsi, kita hidup dalam sistem satu partai, bukan demokrasi," tulisnya.

"Hari ini, America Party dibentuk untuk mengembalikan kebebasan Anda."

Musk, yang ditunjuk untuk memangkas pengeluaran federal melalui jabatan tidak resmi di DOGE dari Januari hingga Mei, telah menjadi pengkritik vokal terhadap "One Big Beautiful Bill Act" Trump, yang menurut Kantor Anggaran Kongres yang independen akan meningkatkan defisit nasional sebesar USD 3,3 triliun hingga tahun 2034.

UU tersebut memberikan pemotongan pajak besar-besaran bagi kalangan super kaya, sembari memangkas program jaring pengaman sosial pemerintah federal, yang mengakibatkan hingga 10,6 juta orang kehilangan asuransi kesehatan.

Keduanya telah berseteru terkait biaya dan dampak dari "One Big Beautiful Bill Act" sejak Musk meninggalkan pemerintahan pada Mei. Dan pada Jumat (4/7), saat Trump menandatangani RUU itu dalam acara piknik Hari Kemerdekaan di Gedung Putih, CEO Tesla dan SpaceX itu membuka jajak pendapat di X: "Waktu yang sempurna untuk bertanya apakah Anda menginginkan kemerdekaan dari sistem dua partai (beberapa menyebutnya sistem satu partai)."

Hasil jajak, kata Musk pada Sabtu malam, menunjukkan bahwa dua dari tiga responden menjawab ya. Dia memberikan sedikit detail mengenai struktur partai barunya atau jadwal pembentukannya. Namun, unggahan sebelumnya menyiratkan bahwa America Party akan fokus pada dua atau tiga kursi Senat, serta delapan hingga 10 kursi DPR.

Kedua majelis Kongres saat ini dikuasai oleh Partai Republik dengan mayoritas yang sangat tipis.

"Mengingat margin legislatif yang sangat tipis, itu sudah cukup untuk menjadi penentu dalam undang-undang kontroversial, memastikan bahwa undang-undang tersebut benar-benar mencerminkan kehendak rakyat," kata Musk.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya