Liputan6.com, Jakarta Kepulangan warga negara Indonesia (WNI) dari Iran terus berlanjut hari ini, Rabu (25/6/2025). Sebanyak 8 WNI telah tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta sekitar Rabu dini hari, pukul 06.03 hingga 07.22 WIB.
Seharusnya, kepulangan WNI dari Iran pada Selasa, 24 Juni 2025. Namun, akibat kondisi di Qatar memanas dan sempat menutup bandaranya, hingga mengakibatkan penundaan penerbangan. Kepulangan WNI pada hari Selasa pun hanya 11 orang saja, yang berasal Kalimantan Timur dan Jawa Timur.
Advertisement
Kemudian dua rombongan lainnya direncanakan tiba pada hari ini. Terdiri dari 8 orang yang sudah tiba pada pagi ini di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Dari data yang dihimpun, ke-8 WNI tersebut menumpang pesawat Qatar Airlines (QR-954) rute Doha (DOH) - Jakarta (CGK). Keseluruhannya berasal dari Bandung, Jawa Barat, dan Medan, Sumatera Utara.
Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri, Andy Rachmianto, mengatakan pemulangan WNI dari Iran ini berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang memerintahkan untuk segera mengevakuasi WNI.
Sampai hari ini Pemerintah Indonesia sudah berhasil mengeluarkan 96 WNI dan seorang perempuan warga negara Iran, yang merupakan istri seorang WNI.
"Ke-97 orang ini sudah berhasil kita evakuasi dari daerah-daerah konflik di Iran dan perbatasannya, seperti Teheran, dan wilayah perbatasan lainnya, menuju Baku Azerbaijan, kemudian meninggalkan Iran," ungkap Andy.
Pemulangan untuk gelombang satu ini masih berlanjut. Diperkirakan nanti sore sekitar pukul 15.30 WIB akan tiba lagi sebanyak 10 WNI, menumpang pesawat QR.956, di Bandara Soekarno-Hatta.
200 WNI Pilih Bertahan di Iran
Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri, Andy Rachmianto, mengungkapkan ada sekitar 200 lebih warga negara Indonesia (WNI) memilih menetap di Iran di tengah konflik dengan Israel. Seluruh WNI itu menetap di Kota Qom, Iran.
"Di Qom itu kira-kira ada sekitar 200-an. Paling banyak itu memang dari 380 sekian itu WNI kita konsentrasi paling banyak di Kota Qom. Ya (200 orang) mereka masih, untuk sementara tinggal di sana," kata Andy di Terminal III, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa malam (24/6/2025).
Andy mengatakan para WNI itu kebanyakan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan. Menurutnya, Qom adalah kota yang aman dan tidak menjadi target serangan Israel maupun Amerika Serikat.
"Jadi mereka utamanya itu yang dari Qom. Karena Qom itu kan kota suci di sana untuk Iran ya, agama mereka. Dan konsentrasi WNI kita paling banyak memang di Kota Qom, khususnya mahasiswa yang sedang belajar. Jadi karena Qom itu kota sucinya mereka, Kota Qom itu tidak menjadi target serangan," kata Andy.
Andy mengatakan, di kota tersebut tidak terdengar suara sirene selama perang antara Iran vs Israel terjadi. Para WNI yang menetap pun merasa tenang-tenang saja.
"Salah satu yang pernah tinggal di Qom juga sudah tinggal 28 tahun di Iran, 10 tahun di Qom. Dari komunikasi dengan teman-temannya di sana, ya kota Qom itu relatif aman, tenang-tenang saja," ujar Andy.
"Karena tidak terdengar sirene, karena tidak menjadi target serangan, tidak ada sirene tidak ada kepanikan, ya normal-normal saja. Karena itu saudara-saudara kita yang di sana merasa ya mungkin mereka belum perlu lah untuk kembali ke Indonesia," jelasnya.
Prabowo Pantau Konflik Iran Vs Israel, Keselamatan WNI Jadi Prioritas
Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro mengatakan Presiden Prabowo Subianto terus mengikuti perkembangan konflik antara Iran vs Israel. Menurut dia, Prabowo telah melakukan upaya untuk mendorong penurunan eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Jadi untuk sambil mengikuti perkembangan ini, Presiden melakukan berbagai upaya untuk mendorong deeskalasi, mendorong menurunnya eskalasi konflik di kawasan itu," kata Juri di Kantor Kementerian Sekretariat Negara Jakarta, Selasa (24/6/2025).
Presiden Prabowo Subianto, kata dia, telah memerintahkan jajarannya melakukan upaya evakuasi WNI. Juri mengatakan pemerintah saat ini sudah memulai proses evakuasi WNI dari Iran.
"Jadi untuk keselamatan WNI, Pak Presiden sudah memerintahkan seluruh jajarannya untuk mengantisipasi dan menyelamatkan jika ada hal-hal yang memang perlu dilakukan untuk mengevakuasi WNI yang di sana. Dan itu sudah berjalan," jelasnya.
Juri menegaskan Indonesia merupakan negara non-blok. Sehingga, Indonesia mengutamakan perdamaian dalam penyelesaian konflik.
"Tentu saja karena Indonesia adalah negara yang memiliki prinsip non-blok, maka dalam hal ini posisi Indonesia adalah posisi yang menginginkan bahwa perdamaian jauh lebih bagus, perdamaian jauh lebih baik ketimbang perang yang membawa korban kedua belah pihak," tutur Juri.