Pembatalan Penerbangan 2 Kloter Jemaah Haji Surabaya oleh Saudia Airlines Dampak dari Perang Iran VS Israel

Dua kloter jemaah haji dari embarkasi Surabaya (SUB), yakni SUB 43 dan SUB 44, masih menunggu penjadwalan ulang penerbangan mereka dari maskapai Saudia Airlines.

oleh Dinny MutiahDiperbarui 24 Juni 2025, 20:03 WIB
Dirjen PHU Kementerian Agama Hilman Latief. (dok. MCH 2025)

 

Liputan6.com, Jeddah - Dua jadwal penerbangan jemaah haji asal Kloter Surabaya (SUB), yakni SUB 43 dan SUB 44, dibatalkan pihak maskapai Saudia Airlines. Keputusan diambil sebagai dampak dari ekskalasi perang Iran vs Israel yang terus meningkat pasca-pemboman situs nuklir Iran oleh Amerika Serikat.

"Kami sampaikan bahwa tadi malam terjadi ekskalasi politik di Timur Tengah dan ada beberapa penerbangan yang sempat ditunda atau dibatalkan," kata Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Hilman Latief di Makkah, Selasa (24/6/2025).

Total ada 760 jemaah haji dan petugas kloter yang kini diinapkan di tujuh hotel transit di Jeddah. Selama menunggu penjadwalan ulang penerbangan, kebutuhan konsumsi dan akomodasi akan dipenuhi oleh pihak maskapai sebagai bagian dari kompensasi. 

"Mereka belum memberikan jadwal terbaru karena tetap sesuai dengan rotasi pesawatnya ya, tapi mudah-mudahan secepatnya. Insya allah jemaahnya sudah aman di hotel," ujar Hilman.

Meski ada dua pembatalan penerbangan, Hilman mengatakan bahwa sejumlah penerbangan selanjutnya yang sudah terjadwal hari ini masih bisa berlanjut sesuai jadwal.

"Untuk penerbangan selanjutnya, insya allah masih bisa berlanjut karena maskapai yang kita gunakan banyak yang menggunakan jalur melalui Oman, dan itu masih aman," kata dia.

 

Misi Haji Indonesia Terus Berkoordinasi untuk Amankan Jemaah Haji

Jemaah haji SUB 44 diinapkan ke hotel transit di Jeddah setelah Saudia Airlines mengumumkan pembatalan penerbangan. (dok. PPIH Daker Bandara 2025)

Menurut data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), terdapat total ada 21 jadwal penerbangan pemulangan jemaah haji gelombang I sebelum dua penerbangan Saudia Airlines dibatalkan. 

Hingga pukul 15.30 WAS, sudah tujuh penerbangan dilakukan berbagai maskapai dengan sebagian mengalami keterlambatan, termasuk Garuda Indonesia dan Saudia Airlines. Penerbangan jemaah Kloter SUB 45 yang menumpang maskapai Arab Saudi itu justru lebih cepat 30 menit dari jadwal semula. 

Hilman mengatakan Misi Haji Indonesia atau PPIH Arab Saudi tidak bisa menentukan langkah antisipasi terkait dampak lanjutan dari meningkatnya ekskalasi ketegangan di Timur Tengah sendirian. Pihaknya terus menerus berkoordinasi dengan KJRI, KBRI, maupun otoritas lain serta Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi dan syarikah-syarikah untuk mengambil setiap keputusan.

"Bagaimanapun situasi yang ada ini harus disikapi tidak hanya oleh Misi Haji Indonesia, tetapi perusahaan-perusahaan layanan yang ada di Makkah," ucapnya.

"Fase sibuk kita, fase untuk kepulangan masih panjang. Mohon doa dari masyarakat di Tanah Air agar seluruh proses ini dapat berjalan lancar tanpa ada halangan," imbuhnya.

Pendorongan Terakhir ke Jeddah

Proses pemulangan jemaah haji 2025 ke tanah air. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Sementara itu, proses pemulangan jemaah haji gelombang I dari Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah akan berakhir pada 25 Juni 2025. Selanjutnya, proses pemulangan akan dilanjutkan pada gelombang II dari Bandara Prince Mohammed bin Abdulaziz Madinah pada 26 Juni 2025.

Hilman mengatakan pihaknya terus memantau situasi yang terjadi karena masih ada 100 ribu lebih jemaah haji Indonesia di Arab Saudi per hari ini. Pihaknya akan berusaha menjaga ritme kepulangan dengan jumlah jemaah antara 4000 sampai 7000 orang kembali ke Tanah Air setiap hari.

"Karena ini jumlahnya cukup banyak, maka kita juga tetap intensif komunikasi dengan berbagai pihak agar ini bisa selesai tanpa hambatan yang berarti," sahutnya. Proses pemulangan jemaah haji gelombang II akan berlangsung hingga 12 Juli 2025. 

Terkait jemaah haji yang jatuh sakit dan dirawat di Arab Saudi sementara rombongan kloternya harus pulang, pihaknya menyerahkan pendampingan jemaah yang sakit kepada petugas kesehatan. Jika kondisi membaik, jemaah tersebut bisa disusulkan ke Madinah atau langsung dipulangkan ke Tanah Air.

"Tergantung situasi, yang jelang semua yang dianggap belum layak terbang dengan berbagai penyakit itu tetap akan dirawat di Arab Saudi," ujar Hilman.

Infografis Ketegangan Perang Iran vs Israel. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya