Waspada Perang Dunia III di Depan Mata, Orang Indonesia Diimbau Lakukan Ini

Ketegangan geopolitik yang kian memanas hingga potensi terjadinya perang dunia III pecah akibat serangan Amerika Serikat terhadap Iran dinilai akan membawa dampak signifikan terhadap perekonomian global dan regional. Hal apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat di tengah kondisi seperti ini?

oleh Gagas Yoga PratomoDiperbarui 23 Juni 2025, 17:49 WIB
Militer Israel mengonfirmasi bahwa rudal-rudal tersebut diluncurkan langsung dari wilayah Iran. (AP/Oded Balilty)

Liputan6.com, Jakarta Ketegangan geopolitik yang kian memanas hingga potensi terjadinya perang dunia III pecah akibat serangan Amerika Serikat terhadap Iran dinilai akan membawa dampak signifikan terhadap perekonomian global dan regional. Hal apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat di tengah kondisi seperti ini?

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan bijak dalam mengelola keuangan. Menurutnya, situasi global saat ini menimbulkan ketidakpastian yang tinggi dan dapat memicu gejolak di berbagai sektor, termasuk sektor keuangan dan energi.

"Melakukan yang terbaik di bidang masing-masing untuk tetap produktif secara ekonomi," kata Wijayanto Samirin kepada Liputan6.com, Senin (23/6/2025).

Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengambil keputusan keuangan, terutama dalam investasi berisiko tinggi dan pinjaman dengan bunga besar. Selain itu, Wijayanto mendorong masyarakat untuk mengembangkan semangat kewirausahaan agar tetap dapat menciptakan peluang di tengah tantangan ekonomi.

"Berhati-hati melakukan investasi berisiko dan melakukan pinjaman dengan bunga tinggi. Dorong semangat entrepreneurship, karena peluang luas justru ada di sana," ujarnya.

Menurut Wijayanto, meski tekanan geopolitik meningkat, masyarakat tetap dapat bertahan dan berkembang jika mampu mengelola risiko dengan bijak dan tetap fokus pada produktivitas di bidang masing-masing.

 

Dampak Ekonomi Jika Perang Dunia Terjadi

Kombinasi gambar yang dibuat pada tanggal 22 Juni 2025 menggunakan citra satelit yang dirilis oleh Maxar Technologies menunjukkan fasilitas pengayaan nuklir Isfahan milik Iran pada tanggal 16 Juni 2025 (atas), dan fasilitas pengayaan nuklir Isfahan milik Iran di Iran bagian tengah setelah serangan AS pada tanggal 22 Juni 2025. (Citra satelit ©2025 Maxar Technologies/AFP)

Adapun jika perang dunia ketiga benar-benar terjadi, menurut Wijayanto akan sangat berdampak buruk untuk berbagai aspek, terutama ekonomi. Menurutnya, jika risiko global meningkat, sektor keuangan bergejolak, harga energi melejit dan inflasi naik.

Ia menambahkan dalam situasi seperti ini, para investor cenderung menahan diri, perdagangan global akan menurun, dan pertumbuhan ekonomi dunia semakin melambat. Selain itu, harga minyak dan komoditas energi lainnya diperkirakan akan meningkat, sementara harga komoditas non-energi justru bisa menurun.

"Harga minyak dan komoditas energi akan meningkat (batubara, Gas, CPO), tetapi komoditas non energi (mineral/tambang) justru berpotensi turun, karena demand turun," ujar Wijayanto.

Menurutnya, meski ada potensi eskalasi konflik, ia tidak yakin situasi ini akan memicu Perang Dunia ke-3. Namun demikian, ketidakpastian dan dampak ekonomi dari ketegangan ini tetap harus diwaspadai, terutama bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

 

 

Selat Hormuz Ditutup Imbas AS Serang Iran, Ini Dampaknya bagi Indonesia

Rudal ditembakkan dari kapal perang saat latihan militer Iran di Teluk Oman, Kamis (18/6/2020). Uji coba dilakukan saat Angkatan Laut Iran menggelar latihan di Samudra Hindia bagian utara dan perairan Teluk Oman, yang membentang dekat Selat Hormuz di ujung kawasan Teluk. (Iranian Army office/AFP)

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah parlemen Iran memutuskan menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi hampir seperlima perdagangan minyak global.

Keputusan ini disampaikan anggota senior parlemen Iran, Esmaeil Kowsari, Minggu (22/6), sebagai bentuk respons terhadap serangan militer Amerika Serikat (AS) dan sikap diam komunitas internasional.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menyebut dampak paling nyata akan dirasakan negara-negara di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara termasuk Indonesia.

“Saya kira yang akan terimbas itu justru Singapura ya, kemudian Indonesia atau wilayah Asia Tenggara dan juga Tiongkok,” kata Yayan kepada Liputan6.com, Senin (23/6/2025).

Sebaliknya, negara-negara Eropa dan India kemungkinan tidak akan terlalu terpengaruh karena mereka memiliki alternatif pasokan.

“Kalau misalkan untuk wilayah Eropa dan kemudian misalkan seperti India ya, mungkin bisa dari Rusia lewat darat dan kalau Uni Eropa mungkin bisa menggunakan minyak dari Amerika Serikat dan beberapa negara lain,” ujarnya.

Butuh Gencatan Senjata untuk Redam Harga Minyak

Trump mengatakan USS Boxer mengambil tindakan setelah drone itu berada dalam jarak 1.000 yard. (Craig Z Rodarte / AFP)

Yayan menambahkan, untuk mencegah lonjakan harga minyak yang lebih drastis, diperlukan langkah diplomasi segera. 

“Untuk menstabilkan eskalasi dari kenaikan harga minyak ini, ya mungkin harus diajukan yaitu adanya gencatan senjata dan perdamaian antara Iran, Amerika Serikat, kemudian Israel,” ujarnya.

Menurutnya, ketiga negara ini memang harus segera didamaikan, sehingga akan menciptakan stabilisasi pasar. Jika produksi minyak Iran menurun akibat eskalasi ini, Yayan memperkirakan negara-negara OPEC seperti Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab akan meningkatkan produksinya guna menjaga keseimbangan suplai global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya