Pentingnya Edukasi Organ Reproduksi Sejak Dini untuk Cegah IMS

Edukasi tentang kesehatan organ reproduksi sebaiknya tidak dimulai saat anak memasuki usia remaja, tetapi sedini mungkin.

oleh Benedikta DesideriaDiperbarui 23 Juni 2025, 09:22 WIB
Edukasi organ reproduksi sejak dini dengan materi yang disesuaikan dengan usia anak. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Praktisi kesehatan masyarakat dokter Ngabila Salama mengatakan edukasi tentang kesehatan organ reproduksi sebaiknya tidak dimulai saat anak memasuki usia remaja, tetapi sedini mungkin. Bisa dimulai dari PAUD lalu SD dengan bahasa yang disesuaikan dengan usia anak.

Tanpa bekal pemahaman yang benar, anak-anak saat usia SMP atau SMA bisa saja terlibat dalam hubungan seksual tidak aman.

"Dari PAUD diperkenalkan organ reproduksi. Lalu terutama saat SD, untuk diperkenalkan organ reproduksi untuk mencegah hubungan seksual berisiko yang bisa menularkan penyakit infeksi menular seksual seperti HIV, sifilis, gonore, dan HPV yang bisa menjadi penyebab kanker serviks" kata Ngabila dalam pesan suara ke Health Liputan6.com.

Edukasi tentang organ reproduksi tidak bisa hanya dari sekolah, orangtua juga punya peran penting di sini. "Jadi, edukasi kesehatan organ reproduksi ini harus secara masif dan berbagai sisi," kata Ngabila.

Ia juga menekankan pentingnya materi pendidikan kesehatan yang mudah dipahami dan sesuai usia anak, misalnya melalui komik, video animasi, dan modul interaktif.

Ngabila juga mengatakan bahwa bahan pengajaran tentang pendidikan kesehatan untuk usia PAUD hingga SMA sudah dirilis di akhir 2023. Ngabila menyarankan untuk bisa memaksimalkan memasukkan edukasi kesehatan reproduksi di dalamnya.

Terkait HIV, Ngabila mengatakan bahwa penularan tidak hanya lewat hubungan seksual berisiko. Bisa juga lewat penggunaan jarum suntik yang bergantian seperti pada pengguna narkoba.

Kemenkes Laporkan Kasus Sifilis Meningkat, Termasuk di Usia Muda

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI mengatakan pada tiga tahun terakhir terjadi kenaikan kasus IMS. Kenaikan kasus termasuk di kelompok usia muda.

Data Kemenkes mencatat 23.347 kasus sifilis pada tahun lalu, mayoritas merupakan sifilis dini (19.904 kasus), dan 77 di antaranya adalah sifilis kongenital, yang menular dari ibu ke bayi.

Gonore juga tercatat tinggi dengan 10.506 kasus, terutama di DKI Jakarta.

"IMS bukan hanya masalah kesehatan pribadi, ini masalah kesehatan masyarakat. IMS membuka pintu bagi penularan HIV, dan kasus terbanyak terjadi di usia produktif 25-49 tahun, bahkan kini mulai meningkat pada usia remaja 15-19 tahun,” kata Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Ina Agustina dalam temu media pekan lalu.

 

Apa Itu Sifilis dan Gonore?

 

Gonore dan sifilis merupakan penyakit menular seksual dengan penyebab yang berbeda.

Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae sedangkan sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.

Gejala yang ditimbulkan akibat gonore dan sifilis pun berbeda.

Gonore menimbulkan gejala yang cukup khas pada pria, yaitu berupa keluar cairan berwarna kuning, putih, atau kehijauan dari penis disertai nyeri ketika buang air kecil. Sementara pada perempuan, gejalanya tidak terlalu jelas.

Sifilis atau raja singa dibagi menjadi empat tahap di mana tahap pertama akan beralih ke tahap kedua lalu ketiga dan keempat bila tidak ditangani dengan baik.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya